MAKALAH METODE STUDI ISLAM (ARTI PENTING AGAMA ISLAM BAGI MANUSIA)


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah hiladzi nahmaduhu wanasta’inuhu wanastagfiruhu wanaudzubulillahi minangfusina mayah dzilahi fala mudhilalah wamayudhlilhu fala hadiaalah. Pertama puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta nikmatnya kepada kita semua, sehingga kita dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Kedua sholawat berbingkai salam semoga tetap terlimpahkan ke pada baginda kita Nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman mahiriah yakni addinul islam.
Dalam makalah yang berjudul “Arti Penting Agama Bagi Manusia” Alhamdulillah telah bias disusun dengan mengumpulkan berbagai macam referensi. Kami menyadari bahwa dalampenyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu, penyusun perlu kritik dan saran. Besar harapan kami makalah ini dapat berguna untuk para pembaca.



, Februari 2018

Penyusun






DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR…………………………………………………………ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………...iii
BAB I PENDAHULUAN 
    1. Latar Belakang……………………………………………………..
    2. Rumusan Masalah………………………………………………….
    3. Tujuan Penulisan……………………………………………………
BAB II PEMBAHASAN
    1. Pengertian Agama
    2. Pentingnya Agama Bagi Manusia
    3. Fungsi Agama dalam Kehidupan
    4. Fungsi Agama dalam Masyarakat
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan 
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw, diyakini dapat menjamin dapat terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna dalam arti yang seluas-luasnya.
Manusia sebagai makhluk paling sempurna di antara makhluk-makhluk lain mampu mewujudkan segala keinginan dan kebutuhannya dengan kekuatan akal yang dimilikinya. Namun di samping itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk mencari sesuatu yang mampu menjawab segala pertanyaan yang ada dalam benaknya. Segala keingintahuan itu akan menjadikan manusia gelisah dan kemudian mencari pelampiasan dengan timbulnya tindakan irrasionalitas. Munculnya pemujaan terhadap benda-benda merupakan bukti adanya keingintahuan manusia yang diliputi oleh rasa takut terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya.
Kemudian sebagian para ahli mengatakan bahwa rasa ingin tahu dan rasa takut mendorong tumbuh suburnya rasa keagamaan dalam diri manusia. Ia merasa berhak untuk mengetahui dari mana ia berasal, untuk apa dia berada di dunia, apa yang mesti ia lakuakan demi kebahagiaan dunia dan alam akhirat nanti, yang merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah agama. Oleh karean itu dalam makalah yang sederhana ini akan di ulas bagaimana agama bisa menjadi kebutuhan manusia.

1.2 Rumusan masalah
1. Apa pengertian agama islam ?
2. Apa penting nya agama bagi manusia ?
3. Apa fungsi agama bagi kehidupan ?
4. Apa dalam masyarakat ?

BAB II
PEMBAHASAN

    1. Pengertian Agama Islam
Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan dan disyariatkan Allah SWT serta satu-satunya agama yang diakui dan diterima-Nya. Allah SWT tidak akan menerima agama selainnya, dari siapapun, dimanapun dan sampai kapanpun juga. Sesuai dengan ayat Al-Qur’an yang artinya:

“sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah islam”

Sedangkan pengertian agam menurut bahas Arab berarti “Addin” yang artinya kepatuhan, kekuasaan atau kecenderungan. Agama juga merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, “religion” atau religi yang artinya kepercayaan dan penyembahan tuhan. Agama pada umumnya ialah;
  • Tata keimanan atau keyakinan atas adanya sesuatu yang Mutlak di luar manusia.
  • Tata peribadahan manusia kepada yang dianggap mutlak.
  • Tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tat peribadatan termaksud di atas.
      Para pemikir dunia lainnya mengemukakan, bahwa agama adalah kepercayaan adanya Tuhan yang menurunkan wahyu kepada para nabi-Nya untuk umat manusia demi kebahagiaannya di dunia dan di akhirat. Dari sini dapat dinyatakan bahwa agama memiliki tiga bagian yang tidak terpisah, yaitu akidah (kepercayaan hati), syariat ( perintah-perintah dan larangan Tuhan) dan akhlak (konsep untuk meningkatkan sisi rohani manusia untuk dekat kepada-Nya). Jadi, agama adalah suatu kepercayaan, keyakinan kepada yang mutlak, yang dimana keyakinan tersebut dianggap yang paling benar.
Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah SWT dengan beriman dan bertauhid kepada-Nya serta mengikuti syariat yang dibawa oleh para rasul-Nya.
Jadi, inti agama islam adalah berserah diri secara total kepada Allah SWT mengesakan-Nya, mengagungkan-Nya dan mencintai dengan mengikuti  wahyu dan syariat-Ny
    1. Pentingnya Agama Bagi Manusia
Dinamika sosial dewasa ini bergerak sangat cepat sekali, sementara manusia terutama dari aspek mentalitas dan moralitas belum siap dipacu untuk mengikutinya. Iklim sosial yang tampil menjadi cenderung semakin membuka dan mendorong gaya hidup masyarakat ke arah patologis yang kurang memanusiakan manusia (homohominilupus). Mentalitas manusia cenderung menuju kea rah merendahkan dan mudah diperlukan atas nilai-nilai kemanusiaan.
Pemikiran seperti itu menunjukan bahwa modernisasi yang dibangun manusia-manusia jenius di suatu sisi telah merusak akar-akar luhur yang ada pada diri manusia, baik yang bersifat sosial dan kemasyarakatan maupun nilai-nilai sosial keagamaan (normative). Dengan demikian, tidaklah salah bila Nugroho Notosutanto (Dadang Hawari, 1998: 3) juga mengingatkan bahwa dibalik modernisasi yang serba gemerlap dan memukau itu ada gejala yang dinamakan the agony of modernization, yaitu sengsara karena modernisasi, dan gejala itu dapat dilihat dengan semakin meningkatnya angka-angka kriminalitas yang disertai dengan tindak kekerasan, pemerkosaan, pembunuhan, jadi penyalahgunaan narkotika, minuman keras, kenakalan remaja, promiskuitas, bunuh diri, gangguan jiwa, dan sebagainya.
Ditinjau dari psikologis manusia modern mulai merasakan gersangnya kedamaian  dan munculnya keunikan pada dirinya, manusia menjadi lupa arah dan tujuan hidupnya yang esensial. Akibatnya akhir kehidupan yang baik sering dipahami secara terpisah sebagai semata-mata tergantung kepada terpenuhinya segala macam kebutuhan materi dengan kata lain terpenuhi keehidupan dunia ini serba mewah dan penuh kemegahan. Jadi berarti manusia modern sekarang ini kenyataannya telah banyak diperbudak oleh sesuatu yang bersifat materi bahkan etos materialis telah menjadi berhala baru buat mereka.
Pada dasarnya setiap manusia memiliki berbagai macam kebutuhan, tidak hanya kebutuhan fisik dan biologis semata (makan, minum, dan kebutuhan jasmaniah lainya) akan tetapi, manusia juga perlu memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikis yang bersifat rohaniah. Menurut Zakiah Daradjat (2001: 28-46) kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kebutuhan Akan Rasa Kasih Sayang
Rasa kasih saying adalah kebutuhan jiwa yang paling mendasar dalam hidup manusia. Jika seseorang kurang disayang oleh orang tua ia akan menderita batin, kesehatan badan mungkin terganggu, kecerdasan akan berkurang, anak akan menjadi nakal, keras kepala, dan sebagainya. Orang dewasa pun demikian tidak ada orang yang senang kalau ia dibenci dan tidak disayangi orang. Sebagian penyebab dari kurangnya kasih sayang ini antara lain: kurangnya pemeliharaan ibu, sering diancam dan tindakan pilih kasih, kebutuhan akan rasa kasih saying dapat dipenuhi seseorang percaya kepada Tuhan dan betul-betul meyakini Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada umat-Nya. Orang-orang sungguh percaya kepada Tuhan tidak akan penuh terganggu dan sakit jiwa andaikan kehilangan kasih saying dari orang tua atau dari masyarakat sekitarnya.
  1. Kebutuhan Akan Rasa Aman
Semua manusia butuh rasa aman, tenteram dan bebas dari ketakutan. Hilangnya rasa aman pada diri seseorang akan berpengaruh negative pada dirinya sehingga ia akan menaruh syak wasangka, curiga, bahkan kejam terhadap orang lain. Dan biasanya juga orang-orang yang lemah imannya bila ditimpa musibah akan menyebabkan ia frustasi dan kehilangan akal, sehingga pelarianya kepada hal-hal yang mistis atau bunuh diri. Lain halnya orang-orang yang beriman, dia akan senantiasa merasa aman dan dilindungi oleh Allah Swt. Dalam situasi dan kondisi bagaimanapun juga. Karena dia berpegang pada QS Al-An’am (6: 125).
Artinya: barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki  Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan sisa kepada orang-orang yang tidak beriman. 

  1. Kebutuhan Akan Rasa Harga Diri
Setiap orang butuh dihargai dan ingin diperhatikan. Orang yang mendapat hinaan, dipandang rendah dantidak atau kurang merasa dihargai akan menyebabkan ia merasa sakit hati sehingga berusaha untuk mempertahankan harga dirinya dengan jalan apa pun. Terlebih apabila keimanan orang tersebut tipis atau lemah, maka ia akan mencari penghargaan tersebut dengan caranya sendiri, misalnya memfitnah, mengadu domba, atau bahkan memukul dan membunuh. Lain halnya dengan orang-orang yang beriman dan percaya pada tuhan walau dalam kehidupannya kurang mendapat penghargaan dari orang lain, akan tetapi dia tidak pernah terusik karena ada Tuhan yang mengangkat derajat orang-orang yang beriman.
  1. Kebutuhan Akan Rasa Bebas
Kebutuhan untuk bebas, tidak tertekan, tidak terikat, tidak tertindas, tidak terkungkung oleh apapun juga merupakan kebutuhan manusia. Kehilangan rasa bebas menyebabkan seseorang menjadi gelisah, tertekan baik fisik maupun psikis. Lain halnya dengan orang yang beriman dia tidak akan merasa hilang kebebasannya sekalipun ia terkengkang dan terkurung dalam ruangan yang gelap dan pengap karena ia yakin tak ada yang dapat mengungkung hatinya selain Tuhan, hatinya masih dapat selalu dan senantiasa berhubungan dengan Tuhan, karena Tuhan Maha Mendengar, maha melihat dan maha mengetahui segalanya.
  1. Kebutuhan Akan Rasa Sukses
Tak ada seseorang manusia pun yang ingin gagal dalam hidupnya, semua manusia ingin sukses dan berhasil. Bagi orang-orang yang lemah iman, jika ia menemui kegagal dalam aktivitas hidupnya bias menyebabkan ia putus asa, apatis, tidak percaya diri, dan tidak menghadapi dan melanjutkan hidupnya. Sebaliknya bagi orang-orang yang beriman kalaupun keinginannya atau usahanya tidak berhasil dan menemui kegagalan, dan tidak akan merasa kecewa dan putus asa justru dia bias mengambil hikmah dibalik kegagalan tersebut, karena yakin Tuhan mempunyai takdir yang terbaik untuknya.
  1. Kebutuhan Akan Rasa Ingin Tahu
Kebutuhan ingin tahu ini semakin bertambah seiring dengan perkembangan usianya. Akan tetapi, tidak semua rasa ingin tahu itu dijawab dan diketahui melalui ilmu pengetahuan dan daya nala. Karena memang Allah tidak hanya menciptakan alam syahadah saja, namun juga ada alam gaib, yang tidak bias dijangkau dengan pengetahuan ilmiah. Untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia terhadap hal yang sulit dijangkau akal, Allah telah menurunkan wahyu berupa Al-Qur’an untuk menjadi pedoman hidup yang abadi bagi umat manusia.
Dengan demikian, jelaslah bila pemenuhan-pemenuhan kebutuhan tersebut hanya dapat dicapai dengan agama, sebab dengan melaksanakan ajaran agama manusia akan merasa kasih sayang, aman, harga diri bebas, sukses dan terpenuhi rasa ingin tahu. Jadi psikologi dan agama adalah merupakan dua hal yang sangat erat hubungannya untuk menjadikan manusia-manusia itu tenang dan aman dalam menghadapi kehidupan dunia. Hal ini dapat diperhatikan pada orang-orang yang melanggar nilai-nilai moral yang oleh agama dipandang berdosa. Perasaan berdosa pada manusia yang melanggar norma tersebut dapat mengakibatkan perasaan sedih dalam dirinya meskipun hukuman lahiriah tidak diterima. Psikologi memandang orang yang berdosa berarti telah menghukum dirinya sendiri, karena dengan pelanggarannya tersebut jiwanya menjadi tertekan.

    1. Fungsi Agama dalam Kehidupan
Fungsi agama yaitu, sebagai  pustaka kebenaran, dimana agama diibatkan sebagai suatu gedung perpustakaan kebenaran. Agama dapat dijadikan suatu pedoman dalam mengambil suatu keputusan antara yang benar  dan yang salah. Fungsi agama dalam kehidupan antara lain:
  1.  Edukatif
Agama memberikan bimbingan dan pengajaran tentang boleh tidaknya suatu perbuatan, cara beibadah, dan lain-lain dengan perantara petugas-petugasnya (fungsionaris).
  1. Penyelamatan 
Agama membantu manusia untuk mengenal sesuatu “yang sacral” dan “ makhluk tertinggi” atau tuhan dan berkomunikasi dengan-Nya. Sehingga dalam hubungan ini manusia percaya dapat memperoleh apa yang ia inginkan.
  1. Pengawasan sosial
Agama mengamankan dan melestarikan kaidah-kaidah moral (yang dianggap baik) dari sebuah deskruktif dari agama baru dan dari sistem hukum Negara modern.
  1. Memupuk persaudaraan
Kesatuan persaudaraan atas dasar se-iman, merupakan kesatuan tertinggi karena dalam persatuan ini manusia bukan hanya melibatkan sebagian dari dirinya saja melainkan seluruh pribadinya dilibatkan.
  1. Transformatif
Mengubah bentuk kehidupan baru atau mengganti nilai-nilai lama dengan menanamkan nilai-nilai yang lebih bermanfaat.
    1. Fungsi Agama Dalam Masyarakat
Agama dalam masyarakat masih berfungsi bagi kehidupan manusia, karena agama masih memberikan andil bagi keamanan dan kesejahteraan masyarakat. Teori fungsional mendasarkan pembahasannya pada hubungan agama dengan aspek pengalaman yang mentransendesikan sejumlah peristiwa eksistensi manusia sehari-hari, yaitu melibatkan kepercayaan dan tanggapan kepada sesuatu yang berbeda di luar jangkauan manusia, yang diperoleh dari ketidakpastian, ketidakberdayaan, dan kelangkaan yang menjadi karakteristik dasar kondisi manusia. Dalam hal ini fungsi agama adalah menyediakan dua hal yang penting bagi manusia, yaitu; pertama, suatu pandangan tentang dunia luar yang tak terjangkau oleh manusia. Kedua, agama adalah sarana ritual yang memungkinkan hubungan manusia dengan hal-hal diluar jangkauannya, yang memberikan jaminan dan keselamatan bagi manusia. 
Interelasi antara agama dan masyarakat menyebabkan agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Agama diujudkan dan dipandang sebagai sistem kepercayaan yang diwujudkan dalam perilaku sosial tertentu, sehingga setiap perilaku yang diperankannya akan terkait dengan sistem keyakinan dari ajaran agama yang dianutnya. Dengan demikian, keberadaan agama ternyata masih diperlukan dalam kehidupan masyarakat. Dalam kenyataannya fungsi agama dalam masyarakat, dapat dilihat pada: 
  1. Agama berfungsi sebagai edukatif
Setiap agama mengajarkan dan membimbing penganutnya untuk selalu mentaati aturan dan meninggalkan segala larangan dalam kehidupannya, sehingga mereka terbiasa melaksanakan perbuatan-perbuatan baik. Bahkan ada diantara agama mewajibkan kepada umatnya untuk menuntut ilmu pengetahuan baik ilmu pengetahuan umum (sekuler) maupun ilmu pengetahuan agama (sakral) guna kebahagiaan manusia.
Dengan ilmu pengetahuan manusia dapat mengetahui dan menguasai kehidupan dunia akhirat. Selain itu, ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang akan meninggikan harkat dan martabat manusia disisi Allah dan manusia. Sarana pendidikan ada dua bentuk. Pertama, pendidikan formal, yaitu pendidikan daan pengajaran yang dilaksanakan ditempat resmi seperti lembaga-lembaga pendidikan. Kedua,pendidikan non formal yaitu pendidikan yang dilaksanakan diluar pendidikan formal. Misalnya kegiatan kegiatan keagamaan, pengajian bapak/ibu-ibu, pengajian remaja dan taman pendidikan alquran dan sebagainya.
  1. Agama sebagai transformasi
Transformatif berasal dari bahasa lain, yaitu dari kata “transformare” artinya mengubah bentuk. Maka fungsi transformatif (khusus pada agama) berarti mengubah pemahaman daribentuk kehidupan keagamaan masyarakat lama kepada bentuk-bentuk kehidupan keagamaan masyarakat baru, artinya menggantikan nilai-nilai agama lama dengan menanamkan nilai-nilai agama baruTransformatif berasal dari bahasa lain, yaitu dari kata “transformare” artinya mengubah bentuk. Maka fungsi transformatif (khusus pada agama) berarti mengubah pemahaman daribentuk kehidupan keagamaan masyarakat lama kepada bentuk-bentuk kehidupan keagamaan masyarakat baru, artinya menggantikan nilai-nilai agama lama dengan menanamkan nilai-nilai agama barudalam kehidupan manusia. Jalaludin menjelaskan bahwa ajaran agama dapat mengubah kehidupan keperibadian seseorang atau kelompok menjadi kehidupandalam kehidupan manusia. Jalaludin menjelaskan bahwa ajaran agama dapat mengubah kehidupan keperibadian seseorang atau kelompok menjadi kehidupan baru sesuai dangan ajaran agama yang dianutnya.
  1. Agama sebagai sosial kontrol
Pada dasar nya mansia meyakini bahwa kesejahteraan kelompok sosial atau masyarakat tidak dapat dipisahkan dari kesetiaan dan kepatuhan anggotanya terhadap kaidah-kaidah susila dan hukum-hukum rasionalyang terdapat dalam kelompok tersebut. Sebaliknya, penyelewengan dan penyelenggaraan terhadap norma-norma dan peraturan-peraturan yang berlaku akan mendatangkan kesusahan bagi mereka.
Kaidah-kaidah yang berlaku dalam masyarakat tercemin dalam hukum adat yang diterima secara turun-temurun dari nenek moyam mereka. Pengawasan atas hukum adat itu dilaksanakan secara terperinci, baik dalam bentuk tingkah laku sehari-hari maupun kejadian-kejadian yang bersifat khusus. Bila hukum adat dan agama menjadi satu, secara otomatis pengawaan sosial telah dilaksanakan oleh kepala adat yang merangkap sebagai pemimpin agama.
Agama ikut bertanggung jawab atas pelaksanaaan norma-norma susila yang baik dan berlaku bagi masyarakat. Untuk menjaga kelestarian kaidah-kaidah susila itu dilingkarilah dengan hal-hal yang bersifat tabu atau larangan melakukannya. Agama memberikan sangsi kepada orang yang melanggar aturan itu dengan mengadakan pengawasan yang ketat dalam pelaksanaannya.
Agama sebagai sosial kontrol terlihat ketika masuknya agama-agama besar ke Nusantara (Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha) serta kebudayaan asing, dalam pelaksanaanya hukum adat atau tradisi setempatterdesak oleh kebudayaan yang datang, akhirnya terjadilah akultrasi kebudayaan. Sedangkan dalam pelaksanaan hukum adat setempat selalu diiringi oleh hukum-hukum dan kaidah-kaidah agama seperti, pada acara kelahiran, acara perkawinan, acara kematian dan sebagainya, disinilah letak fungsi sosial kontrol oleh lembaga keagamaan.
  1. Agama berfungsi sebagai penyelamat
Secara pesikologis, setiap manusia mendambakan keselamatan dan kebahagiaan, baik didunia maupun diakhirat untuk merealisasikannya manusia harus menganut agama yang dijadikan pedoman dalam usaha-saha penyelamatan kehidupannya, baik usaha penyelamatan itu melalui agama wahyu maupun agama alamiah, namun setiap penganut agama harus meyakini kebenaran agamanya itu sebagai penyelamat manusia.
Agama mengajarkan dan memberikan jaminan dengan cara-cara yang khas untuk mencpai kebahagiaan itu berada diluar batas kekuatan manusia. Dalam mencapai keselamatan itu agama mengajarkan para penganutnya dengan pengenalan kepada masalah yang transedental, yaitu melalui keimanan kepada tuhan. Pengenalan manusia dengan transedental itu bertujuan agar berkomunikasi dengan tuhan sesuai dengan konsep kepercayaan agama yang dianutnya. 
  1. Agama berfungsi untuk menanamkan solidaritas 
Solidaritas berarti kesetiakawanan anggota-anggota kelompok sosial. Solidaritas keagamaan menunjukan ukhuwah (persaudaraan) dengan penganut agamanya atau dengan penganut agama lain, kemudian dari perasaan kesamaan dan kesatuan itu membawa rasa solidaritas dalam masyarakat. Rasa solidarias yang dimilikinya itu dapat menumbuhkan dan membina persaudaraan yang kokoh diantara mereka, bahkan dalam agama rasa persaudaraan itu dapat mengalahkan rasa kebangsaan.
  1. Agama berfungsi sebagai pendamai hati manusia.
Secara psikologis, penyakit yang selalu mengganggu jiwa manusia adalah perasaan bersalah atau rasa berdosa yang timbul dari jiwa manusia. Melalui tuntunan agama rasa bersalah atau rasa berdosa itu dapat dihilangkan dari jiwa manusia. Yaitu dengan engikuti atau melakukan tobat, penyucian diri atau penebus dosa. Selama orang yang berbuat dosa atau bersalah tidak mengikuti tata aturan agamanya, maka selama itu pula jiwanya dihantui oleh perasaan berdosa dan bersalah. Seolah-olah ia dikejar-kejar oleh rasa berdosanya atau rasa bersalahnya. Dalam masyarakat peristiwa itu disebut dengan istilah dikejar dosa atau rasa bersalah.
BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan 
Adapun kesimpulan dari isi makalah kami sebagai berikut:
  1. Agam suatu kepercayaan, keyakinan kepada yang mutlak, yang diaman keyakinan tersebut dianggap yang paling benar.
  2. Fungsi agama yaitu, sebagai pustaka kebenaran, dimana agama diibaratkan sebagai suatu gedung perpustakaan kebenaran Agama memberikan kedamaian, ketenangan, pedoman dan juga menjelaskan tentang kehidupan di dunia dan di akhirat. 
  3. fungsi agama dalam kehidupan masyarakat yaitu berfungsi sebagai edukatif, berfungsi sebagai pendamaian, sebagai pengawasan sosial,, sebagai pemupuk rasa solidaritas, sebagai transformatif dan kreatif.




    1. Saran
Makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dari segala segi. Semoga penulis dapat belajar dalam pembuatan laporan dan lebih lengkap dalam segi materi yang terdapat didalam nya.

DAFTAR PUSTAKA




Al-Ghazali. Ihya’ Ulumuddin. Beirut: Eresco, 1997.
Al-Qur’an dan terjemahannya. Departemen Agama, 2000.
Aminuddin, dkk. Pendidikan Agama Islam. Bogor: Ghalia Indonesia, 2005
Wahab, Rohmalina. Psikologi Agama. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2015.






Untuk Mendapatkan Update Berita TERBARU
Follow Kami Juga Di :

Facebook Klik : UPDATE INFO
Instagram Klik : UPDATE INFOO
Telegram Klik : UPDATE INFOO OFFICIAL
Twitter Klik : UPDATE INFOO

Budayakan Membaca Agar Kenali Fakta
Terima Kasih

0 Response to "MAKALAH METODE STUDI ISLAM (ARTI PENTING AGAMA ISLAM BAGI MANUSIA)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel