MAKALAH ILMU PENDIDIKAN ISLAM

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Materi Pendidikan Islam
Salah satu komponen operasional pendidikan Islam adalah kurikulum, ia mengandung materi yang diajarkan secara sistematis dengan tujuan yang telah ditetapkan`
Pada hakikatnya antara materi dan kurikulum mengandung arti sama, yaitu bahan-bahan pelajaran yang disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu sistem institusional pendidikan.
Dalam ilmu pendidikan Islam, kurikulum merupakan bahan-bahan ilmu pengetahuan yang diproses di dalam sistem kependidikan Islam. Ia juga menjadi salah satu bahan masukan yang mengandung fungsi sebagai alat pencapai tujuan pendidikan Islam.
Materi-materi yang diuraikan dalam Al-Qur’an menjadi bahan-bahan pokok pembelajaran yang disajikan dalam proses pendidikan Islam, formal maupun nonformal. Oleh karena itu, materi pendidikan Islam yang bersumber dari Al-Qur’an harus dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan umat Islam.[1]
Materi pendidikan Islam adalah segala sesuatu yang hendak diberikan kepada kepada peserta didik dan dicerna,diolah, dihayati serta diamalkan oleh peseta didik dalam proses kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam.
Untuk menentukan dan mengembangkan materi pendidikan Islam tentunya bertolak dari pandangan dasar Islam tentang manusia, alam dan masyarakat, karena :
 (1) pendidikan itu ditujukan kepada manusia;
 (2) pendidikan itu harus mampu menyingkap rahasia alam dan memanfaatkannya untuk kepentingan dan kemajuan kehidupan manusia dan
 (3) pendidikan itu berlangsung di dalam masyarakat, baik masyarakat sekolah maupun di luar sekolah.
Dari rumusan pandangan Islam tersebut akan diketahui ke mana sebenarnya arah yang hendak dituju oleh pendidikan Islam, yang sekaligus menjadi tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Dan untuk mencapainya dapat dikembangkan melalui rincian penyajian materi-materi pendidikan Islam.[2]

B.     Perkembangan Materi Pendidikan Islam dari Zaman ke Zaman
Dilihat dari segi historis, ternyata materi pendidikan Islam itu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan itu sendiri. Al-Hasjimi dalam bukunya “Sejarah Kebudayaan Islam” telah mengemukakan perkembangan materi pendidikan Islam sesuai dengan perkembangan Islam itu sendiri sebagai berikut:
1.  Zaman permulaan Islam 
Pada masa permulaan Islam, macam-macam ilmu pengetahuan yang berkembang dan sekaligus menjadi materi pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
a  Al-‘Ulum  al-Islamiyah, yakni ilmu-ilmu yang dihayati oleh Islam, meliputi ilmu-ilmu Al-Qur’an, Hadits, Fikih, Lughah, dan Tarikh. Ilmu-ilmu ini juga disebut “al-Adab al-Islamiyah” atau “al-‘Ulum al-Naqliyah”.
b. Al-Adab al-Arabiyah, syair dan khitabah, yang di zaman jahiliyah telah ada dan kemajuannya memuncak di zaman permulaan Islam. Karen itu ilmu-ilmu ini juga disebut “Al-Adab al-Jahiliyah”.
c.  Al-‘Ulum al-‘Aqliyah, yaitu ilmu-ilmu thib, hadasah, falsafah, falak, dan segala macam “al-‘Ulum al-thabi’iyyah” dan “al-‘ulum al-riyadliyah”.
2. Zaman Umaiyah
a.  Al-Adab al-Haditsah, yang meliputi: (1) al-‘ulum al-islamiyah yaitu ilmu Al-Qur’an, ilmu Hadits, ilmu fikih, al-‘ulum al- lisaniyah, tarikh, dan al-jughrafi; (2) al-‘ulum al-Dakhliyah, yaitu ilmu-ilmu yang diperlukan oleh kemajuan Islam, seperti ilmu-ilmu thib, filsafat, ilmu pasti, ilmu-ilmu eksakta, dan lain-lainnya.
b.  Al-adab al-Qadimah (ilmu-ilmu lama) yaitu ilmu-ilmu yang telah ada di zaman jahiliyah dan di zaman khulafaur rasyidin, seperti: ilmu-ilmu lughah, syair, khitbah dan amsal.
3. Zaman Abbasiyah
a. Ilmu Naqli, yaitu ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu kalam, ilmu tasawuf, ilmu bahasa, ilmu fikih, dan ushul fikih.
b. Ilmu Aqli, yaitu ilmu falsafah, ilmu thib, ilmu farmasi dan kimia, ilmu falak dan nujum, ilmu riyahiyah, ilmu tarikh, dan ilmu jughrafi.
c. Ilmu seni, yaitu ilmu seni bahasa, ilmu seni kisah dan riwayat, ilmu seni drama, ilmu senirupa, ilmu senisuara, dan musik dan ilmu seni bangunan.
Menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung, dalam bukunya “Pendidikan Islam menghadapi abad 21”, bahwa ilmu-ilmu yang berkembang dan sekaligus menjadi materi pendidikan Islam di zaman Abbasiyah adalah sebagai berikut:
1. Pengetahuan Agama dan Syari’ah. Diantara ilmu-ilmu yang berkembang dan mendapat rawatan khusus dalam kelompok ini adalah: (1) ilmu tafsir Al-Qur’an; (2) ilmu bacaan (Qiraat), tajwid dan pemberian baris (dabt); (3) ilmu hadits; (4) ilmu mutshalah hadits; (5) ilmu fighi; (6) ilmu ushul fighi; (7) ilmu kalam; (8) ilmu tasawuf.
2. Ilmu-ilmu bahasa dan sastra. Diantara ilmu-ilmu yang banyak dibahas dalam kelompok ini adalah : (1) ilmu bahasa; (2) ilmu nahwu, sharaf, dan ‘arudh; (3) ilmu sastra; (4) ilmu balaghah; (5) ilmu kritik sastra.
3.  Ilmu-ilmu sejarah dan sosial. Diantara ilmu-ilmu yang banyak dibicarakan dalam kelompok ini adalah: (1) ilmu sirah, peperangan, dan biografi; (2) ilmu sejarah politik dan sosial; (3) ilmu jiwa, pendidikan, akhlak, sosiologi, ekonomi, dan tata laksana. Hal ini terdiri atas; (a) ilmu jiwa; (b) ilmu pendidikan; (c) illmu akhlak; (d) ilmu sosiologi; (e)ilmu ekonomi; (f)ilmu politik; (g) ilmu tata laksana. (4) ilmu-imu geografi dan perencanaan kota yang terdiri atas ilmu-ilmu; (a) ilmu geografi; (b) ilmu perencanaan kota (Town Planning).
4. Ilmu-ilmu falsafah, logika, debat, dan diskusi.
5  Ilmu-ilmu tulen/murni, seperti: ilmu matematika, ilmu falak, dan ilmu musik.
6 Ilmu kealaman dan eksperimental, yang terdiri atas; ilmu kimia, ilmu fisika, ilmu biologi.
7. Ilmu terapan dan praktis, yang terdiri atas, ilmu kedokteran, ilmu farmasi, dan ilmu pertanian.
Pada saat ini umat Islam pada umumnya berpendapat bahwa materi pendidikan Islam itu terdiri atas; AL-Qur’an, Al-Hadits, Akidah akhlak, ibadah, muamalah dan tarikh, terutama pada lembaga pendidikan Madrasah(MI s/d MA) dan sekolah umum (SD s/d SMA) dan perguruan tinggi umum. Dan pendidikan Islam tersebut merupakan salah satu bidang studi (mata pelajaran) yang bedampingan dengan mata pelajaran-mata pelajaran yang lainnya. Karena itu bila pendidikan Islam tersebut tidak mampu berdialog dan berinteraksi secara berarti dengan mata pelajaran-mata pelajaran yang lainnya, maka kemungkinan besar pemahaman peserta didik terhadap ajaran agama Islam itu menjadi parsial dan tidak terpadu atau dikotomis. Dalam arti mata pelajaran –mata pelajaran yang lain atau ilmu pengetahuan-ilmu pengetahuan umum yang dipelajari oleh peserta didik itu dianggap tidak ada kaitannya sama sekali dengan ajaran agama Islam. Karena itu wajar bilamana pendidikan Islam saat ini mengalami kemunduran jika dibandingkan dengan keadaan pendidikan Islam pada masa kejayaannya, sebagaimana diuraikan di atas.
Namun demikian, keterpaduan itu mungkin akan bisa terwujud bilamana pendidikan Islam dilaksanakan secara terpadu serta mampu berdialog dan berinteraksi secara berarti dengan bidang-bidang studi lainnya, termasuk di dalamnya materi pendidikan Islam mampu berdialog dan berinteraksi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya manusia. Di samping itu pendidikan agama (termasuk pendidikan agama Islam) benar-benar menjadi sumber acuan pedoman dan penuntun bagi pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya, sebagaimana yang diisyaratkan dalam Ketetapan MPR RI. Nomor 2 tahun 1993 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara.[3]

C.    Klasifikasi Ilmu Pendidikan Islam
Semua jenis ilmu yang dikembangkan para ahli pikir Islam dari kandungan Al-Qur’an dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Al-Farabi
Al-Farabi mengklasifikan ilmu-ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an meliputi sebagai berikut:
a. Ilmu bahasa
b. Logika
c. Sains persiapan terdiri dari ilmu berhitung, geometri, optika, sains tentang benda-benda samawi seperti astronomi; ilmu pengukuran (timbangan), ilmu tentang pembuatan instrumen-instrumen dan sebagainya.
d. Fisika (ilmu alam) dan metafisika (ilmu tentang alam di balik alam nyata). Ilmu fisika terdiri dari berbagai jenis ilmu seperti ilmu-ilmu yang berkaitan dengan benda alam, dan elemen-elemennya, ciri-ciri dan hukum-hukumnya, serta faktor-faktor yang merusaknya, tentang reaksi unsur-unsur dalam benda atau sifat-sifatnya yang membentuk benda itu, ilmu-ilmu mineral, tumbuh-tumbuhan, dan hewan.
Sedangkan yang merupakan ilmu metafisika meliputi ilmu tentang hakikat benda, ilmu tentang sains khusus dan sains pengamatan, ilmu tentang benda yang tidak berjasad.
e. Ilmu kemasyarakatan terdiri dari jurisprudensi (hukum atau syariah) dan ilmu retorika (ilmu berpidato).[4]
2. Ibnu Khaldun 
Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddan pernah menganalisis sains dari aspek historis secara cermat. Beliau mendasarkan klasifikasi kurikulum di sekolah-sekolah (madrasah-madrasah) yang berkembang saat itu. Klasifikasi Ibnu Khaldun dipandang oleh para ilmuan Islam sebagai versi final klasifikasi Islam tentang pengetahuan.
Klasifikasi Ibnu Khaldun tentang ilmu-ilmu dasar pengetahuan Islam yang bersumber dari Al-Qur’an meliputi sebagai berikut:
a.  Ilmu pengetahuan filosofis dan intelektual
Semua ilmu pengetahuan dapat dipelajari oleh manusia melalu akal pikiran dan penalarannya yang bersifat alami, yang terbawa sejak lahir. Ilmu-ilmu ini terdiri dari logika, ilmu alam atau fisika, medis, pertanian, metafisika, (tentang ilmu tenun, sihir, jimat-jimat, yang tertulis dalam huruf alfabetis, dan alkemi) serta ilmu yang berkaitan dengan kuantitas, misalnya geometri dan aritmatika. Begitupula ilmu musik, astronomi, dan astrologi.
Namun demikian, ilmu-ilmu pengetahuan di atas tidak semua bisa dipelajari orang Islam, misalnya ilmu sihir, astrologi untuk meramal nasib, dan jimat-jimat merupakan ilmu pengetahuan yang tidak boleh dipelajari.
b.  Ilmu-ilmu pengetahuan yang disampaikan (transmitted sciences)
Ilmu terdiri dari ilmu Al-Qur’an, tafsir dan tajwid, ilmu hadits, ilmu fikih, teologi (ilmu ketuhanan) dan bahasa.
Ibnu Khaldun (732 H/1332 M) yang pernah menjadi guru atau pendidik di wilayah Afrika Utara sampai Spanyol telah menetapkan tiga kategori ilmu pengetahuan Islam yang harus menjadi materi kurikulum sekolah, yaitu sebagai berikut:
1)  Ilmu lisan (bahasa) yang terdiri dari ilmu nahwu, saraf, balaghah, maani, bayan, adab (sastra) atau syair-syair.
2) Ilmu naqli, yaitu ilmu-ilmu yang dinukilkan dai kitab suci Al-Qur’an dan sunah Nabi. Ilmu ini terdiri dari ilmu membaca (Qiraah) Al-qur’an dan ilmu tafsir, sanad-sanad hadits dan pentashehannya serta istinbat tentang qanun-qanun fiqhyahya. Dengan ilmu-ilmu tersebut anak didik diharapkan bisa mengetahui dan menganalisis materi-materi pelajaran secara benar.
3) Ilmu akli, yaitu ilmu yang dapat memaksimalkan daya kemampuan berpikir manusia melalui filsafat dan semua jenis ilmu pengetahuan, termasuk ilmu mantik, ilmu alam, ilmu ketuhanan (teologi), ilmu teknik, ilmu hitung, ilmu tentang tingkah laku manusi, ilmu sihir dan nujum (kedua ilmu ini terlarang untuk dijadikan mata pelajaran)
Bila dilihat urgensinya Ibnu Khaldun membagi ilmu pengetahuan sebagai berikut:
1)  Ilmu syariah dengan semua jenisnya.
2)  Ilmu filsafat, termasuk ilmu alam dan ilmu ketuhanan.
3)  Ilmu alam yang bersifat membantu ilmu-ilmu agama, seperti ilmu lughah dan lain-lain.
4)   Ilmu alat yang membantu falsafah, seperti ilmu mantik (logika).
Menurutnya, ilmu-ilmu pengetahuan tersebut banyak bergantung pada kepandaian guru dalam mempergunakan berbagai metode yang tepat dan baik. Oleh karena itu, guru wajib mengetahui faedah dari suatu metode yang dipergunakan.[5]
3. Al-Ghozali
Berdasarkan kewajiban menuntut ilmu AL-Ghozali membagi ilmu menjadi 2 jenis yaitu :
a. Ilmu-ilmu fardhu ‘ain yaitu ilmu-ilmu agama dengan segala macamnya, mulai dengan mempelajari Kitab Allah (Al-Qur’an) sampai kepada dasar-dasar ibadah seperti sholat, puasa, zakat, dan haji.
b. Ilmu-ilmu fardhu kifayah yaitu setiap ilmu yang dibutuhkan demi tegaknya urusan duniawi, seperti ilmu kedokteran, aritmetis. Ilmu kedokteran dibutuhkan untuk memelihara kelangsungan hidup, sedangkan aritmetis dibutuhkan untuk urusan muamalah, seperti pembagian wasiat, harta warisan, dan lain-lain. jika di antara penduduk suatu negeri telah ada yang menguasai ilmu-ilmu tersebut, maka gugurlah kewajiban yang lainnya untuk mempelajari ilmu tersebut. Tetapi jika di antara penduduk negeri tersebut tak ada seorangpun yang menguasai ilmu-ilmu tersebut, maka semuanya terkena dosa
Selain itu Al-Ghozali juga menilai ilmu pengetahuan berdasakan pertimbangan manfaat ilmu tersebut. Ia membagi ilmu pengetahuan berdasarkan manfaatnya:
 (1) manfaatnya bagi manusia dalam hubungannya dengan kebahagiaannya di akhirat, seperti ilmu agama yang dapat mendekatkan manusia dengan Allah SWT, menyucikan dirinya, dan berakhlak mulia;
 (2) manfaatnya bagi manusia ditinjau dari kepentingan dan pengabdiannya terhadap ilmu-ilmu agama, seperti ilmu bahasa (linguistik) dan ilmu nahwu;
 (3) manfaatnya bagi manusia di dalam kehidupan di dunia, seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung, dan bermacam-macam bidang kerja; dan
 (4) manfaatnya bagi manusia ditinjau dari segi budaya dan keilmuan, serta kontribusinya bagi kehidupan sosial, seperti kesusastraan, sejaran, politik, dan akhlak. Dengan demikian disamping memberikan penekanan yang kuat terhadap ilmu agama dan akhlak, al-Ghozali juga memberikan penekanan yang kuat terhadap ilmu-ilmu yang penting bagi kehidupan masyarakat dan kebudayaan.[6]
4. Ibnu Sina
Ibnu Sina memberikan klasifikasi ilmu pengetahuan menjadi dua macam, yaitu:
a. Ilmu nadori atau ilmu teoritis, terdiri dari ilmu alam, ilmu riyadi (ilmu matematika), dan ilmu illahi, yaitu ilmu yang mengandung iktibar tentang maujud dari alam dan isinya yang dianalisis secara jujur dan jelas.
b. Ilmu-ilmu amali (praktis), terdiri dari beberapa ilmu pengetahuan yang prinsip-prinsipnya berdasarkan atas sasaran-sasaran analisisnya. Misalnya ilmu yang menganalisis tentang perilaku manusia dilihat dari aspek individual maka timbullah ilmu akhlak, jika manganalisis tentang perilaku manusia dilihat dari aspek sosial maka timbul ilmu siasat (ilmu politik).[7]
D. Konsep Alternatif Pengembangan Materi Pendidikan Islam
Memang salah satu problem yang dihadapi dunia pendidikan Islam saat ini adalah masalah dualisme antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum (sekuler), atau dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum, sehingga menjadi kewajiban bagi perguruan tinggi Islam untuk memecahkan masalah tersebut. Dikatakan demikian, karena perguruan tinggi dianggap sebagai pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan yang menyiapkan calon-calon guru agama Islam yang hendak bertugas di lembaga-lembaga Penidikan Islam.
Dr. Koetowijoyo, dalam bukunya Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, telah menetapkan empat cara untuk mengatasi dualisme atau dikotomi tersebut, sampai cara yang berusaha menginterpretasikannya. Keempat peta tersebut adalah sebagai berikut: (1) memasukan mata kuliah-mata kuliah keislaman sebagai bagian integral dari sistem kurikulum yang ada; (2) menawarkan mata kuliah-mata kuliah pilihan dalam studi keislaman, yakni setelah peerta didik diwajibkan menempuh mata kuliah studi keislaman pada tingkat tertentu, kemudian mereka diharuskan memilih studi-studi Islam bebas pada tingkat berikutnya, seperti tafsir, fikih, hadis, dan seterusnya; (3) menawarkan diajarkannya mata kuliah0mata kuliah filsafat ilmu, untuk memberikan latar belakang filosofis mengenai semua mata kuliah umum yang diajarkan atau memberikan wawasan epistemologisnya yang pada gilirannya dapat diintegrasikan ke dalam orde dan hirarki keislaman; (4) terlebih dahulu mengintegrasikan semua disiplin ilmu di dalam kerangka kurikulum Islam, dalam arti pada tahun-tahun pertama peserta didik menempuh semua mata kuliah dasar yang sudah terintegrasikan di dalam kurikulum yang sudah dipadukan antara ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu umum, kemudian pada jenjang berikutnya peserta didik disuruh memilih spesialisasi yang dimiliki. Untuk Indonesia, spesialisasi dilakuka di S-2 dan S-3 setelah S-1 diselesaikan tanpa pilihan studi khusus.
Dari keempat peta tersebut, menurut koentowijoyo, untuk cara pertama dan kedua masih dianggap melegitimasi dualisme dan dikotomi. Sedangkan cara ketiga dan keempat dianggap telah mampu mengintegrasikannya atau mengatasi dualisme/dikotomi. Hanya saja cara ketiga masih terbatas pada integrasi dari segi filosofinya, sedangkan cara keempat dianggap menyalahi pembakuan disipliner yang sudah mapan, dan implikasinya menghendaki perombakan, pembidangan fakultas dan jurusan.
Kajian berikut berusaha untuk mencoba menawarkan konsep alternatif pengembangan materi pendidikan Islam dengan bertolak dari pandangan Islam tentang manusia, masyarakat dan alam sebagaimana yang telah diuraikan diatas.
Sebagaimana telah diuraikan terdahulu, bahwa manusia diturunkan oleh Allah ke bumi ini adalah untuk menjadi khalifahnya-Nya (Q.S.Al-Baqarah:30). Sebagai khalifah Allah, maka manusia mempunyai dua kewajiban pokok, yaitu memakmurkan bumi (Q.S Hud:61) dan membahagiakan kehidupan manusia (Q.S. Al-Ra’d:29). Untuk melaksnakan tugas tersebut Allah telah menetapkan dua macam hukum (aturan) yang harus ditaati oleh manusia, yaitu sunatullah atau ayat-ayat Allah tidak tertulis atau ayat-ayat Allah yang terdapat di alam (ayat-ayat kauniyah), dan Dinullah atau ayat-ayat Allah yang tertulis atau ayat-ayatNya yang terdapat di dalam Al-Qur’an (ayat-ayat Qur’aniyah).
Sunatullah mengatur makhluk-makhluk fisik, yaitu benda mati, tata surya, tumbuh-tumbuhan, hewan dan jasmani manusia. Makhluk-makhluk ini sangat patuh dan tunduk kepada hukum tersebut (Q.S. Ali-Imran:83, Al-Ra’d:15), sehingga gerakannya menjadi serba tetap, dan karena itu bersifat pasti (Q.S. Fathir:43). Dinullah mengatur makhluk-makhluk psikis yaitu jin dan rohani manusia. Makhluk-makhluk ini diberi kebebasan untuk memilih, apakah mereka mau patuh dan tunduk kepadaNya atau tidak (Q.S. Al-Kahfi:29). Tetapi Allah menyatakan bahwa yang akan sukses di dalam kehidupannya hanyalah yang mematuhi hukum ini saja (Q.S. Al-Ahzab:71, Al-Nur:51). Jadi bagi manusia berlaku kedua macam hukum tersebut, karena manusia itu terdiri dari fisik dan psikis.
Islam menghendaki agar manusia benar-benar memahami kedua macam hukum (sunatullah dan dinullah) tersebut. Karena itu Islam melarang mengerjakan sesuatu yang belum dimengerti (Q.S. Al-Isra’:36). Kalau mau dikerjakan juga harus bertanya dulu kepada orang-orang yang sudah mengerti (ahlinya) (Q.S. Al-Nahl:43).  Islam juga menghendaki agar manusia selalu berhubungan baik dengan Allah, manusia dan dengan alam. Kalau manusia tidak dapat berhubungan baik dengan Allah dan sesama manusia, maka kehidupannya akan menjadi terhina (Q.S. Ali-Imran:112), dan kalau tidak dapat berhubungan baik dengan alam, maka alam itu akan rusak (Q.S. Al-Rum:41), akibatnya kehidupan manusia akan menjadi sengsara. Untuk dapat berhubungan baik dengan Allah, manusia dan alam tersebut tentunya diperlukan bermacam-macam ilmu.
Berdasarkan tugas hidup manusia di bumi, hukum yang berlaku bagi manusia dan kehendak-kehendak Islam terhadap manusia sebagaimana uraian di atas, maka dapat dikemukakan bahwa ilmu-ilmu yang perlu dijadikan materi pendidikan dalam Islam adalah sebagai berikut:
a.  Hukum sunatullah:
1)  Ilmu-ilmu untuk mengetahui benda-benda mati, seperti ilmu kimia, ilmu anatomi, dan sebagainya.
2)  Ilmu-ilmu untuk mengetahui tata surya, seperti ilmu fisika, ilmu meteorologi dan sebagainya.
3)  Ilmu-ilmu untuk mengetahui tumbuh-tumbuhan seperti ilmu botani dan sebagainya.
4)   Ilmu-ilmu untuk mengetahui hewan seperti ilmu biologi dan sebagainya.
5)   Ilmu-ilmu pembantu seperti ilmu matematika dan sebagainya.
b.  Hukum dinullah:
1)  Ilmu-ilmu untuk mengetahui Al-Qur’an, seperti ilmu qira’at, ilmu tafsir, ilmu asbabunuzul dan sebagainya
2)   Ilmu-ilmu untuk mengetahui as-sunal/al-hadis, seperti ilmu dirayah, ilmu mutshalah hadits, ilmu asbab al-wurud al-hadits, ilmu rijal al-hadits dan sebagainya.
3)   Ilmu-ilmu pembantu, seperti ilmu bahasa Arab, ilmu ushul fikih, dan sebagainya.
c. Ilmu-ilmu untuk berhubungan baik dengan Allah, seperti ilmu tauhid, ilmu fikih, dan sebagainya.
d. Ilmu-ilmu untuk berhubugan baik dengan manusia, seperti ilmu sosial, ilmu ekonomi,ilmu politik, ilmu moral, ilmu seni, ilmu filsafat, ilmu pendidikan, ilmu jiwa, ilmu kesehatan, ilmu hukum, ilmu perang dan sebagainya.
e. Ilmu-ilmu untuk berhubungan baik dengan alam, seerti ilmu pertanian, ilmu perikanan, ilmu peternakan, ilmu pertambangan, ilmu perindustrian, ilmu lingkungan hidup, dan sebagainya.
Ilmu-ilmu tersebut tidak begitu saja dapat dijadikan materi ilmu pendidikan Islam pada semua tingkat atau jenjang pendidikan, karena ilmu-ilmu itu masih bersifat global dan luas sekali. Oleh karena itu agar ilmu-ilmu itu dapat diajarkan dan dididikkan kepada peserta didik, maka terlebih dahulu harus diadakan seleksi (pemilihan) perincian dan penjabaran, serta pengaturan dengan seksama.
Pemilihan perincian atau penjabaran dan pengaturan tersebut harus mempertimbangkan hal-hal berikut:
a. Disesuaikan dengan tujuan umum dan tujuan khusus pendidikan atau pengajaran yang telah dirumuskan.
b. Disesuaikan dengan tingkat/jenjang dan jenis pendidikan yang telah ditentukan, seperti di Indonesia: jenjang pendidikan itu adalah Tk, SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA, dan pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan akademis, pendidikan keagamaan, pendidikan profesional.dan sebagainya. Jenjang pendidikan tersebut sudah disesuaikan dengan perkembangan jasamani dan jiwa peserta didik, karena itu pemilihan, perincian, dan pengaturan materi pengajaran harus berbeda, meskipun mata pelajarannya sama.
c.   Merupakan mata rantai yang sambung menyambung dengan teratur, yang didasarkan kepada ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1)  Mulai dari yang rendah/mudah dan sederhana meningkat kepada yang lebih tinggi/sukar dan kompleks.
2) Mulai dari kelas/sekolah atau jenjang pendidikan terendah jenjang yang lebih tinggi.
3) Materi pengajaran pada suatu tingkat kelas/sekolah dapat dijadikan dasar bagi materi pengajaran pada tingkat kelas/sekolah yang lebih tinggi.
d.  Bernilai pembentukan jasmani yang kuat, keterampilan pengetahuan, sikap tunduk kepada Allah dan nilai-nilai lainnya sesuai dengan rumusan tujuan umum pengajaran dan mampu membimbing peserta didik untuk cakap memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya dalam kehidupan di masa depan.
e.   Mendasarakan penentuan jumlah jam pelajaran kepada:
1) Pembawaan peserta didik;
2) Pertumbuhan dan perkembangan peserta didik;
3) Kebutuhan, dan;
4) Kebiasaan yang sudah umum dipakai.[8]



Untuk Mendapatkan Update Berita TERBARU
Follow Kami Juga Di :

Facebook Klik : UPDATE INFO
Instagram Klik : UPDATE INFOO
Telegram Klik : UPDATE INFOO OFFICIAL
Twitter Klik : UPDATE INFOO

Budayakan Membaca Agar Kenali Fakta
Terima Kasih

0 Response to "MAKALAH ILMU PENDIDIKAN ISLAM "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel