MAKALAH EMBRIOLOGI (manipulasi gamet dan embrio)

MANIPULASI GAMET DAN EMBRIO
(Untuk memenuhi tugas mata kuliah Embriologi)


KATA PENGANTAR
AssalamualakumWr. Wb
            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Manipulasi  gamet dan embrio” dengan tepat waktu.
Kami mengucapkan terimakasih kepada Bapak yang telah membimbing kami dan teman-teman satu kelompok yang telah bekerja sama sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak kesalahan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan makalah ini. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Terimakasih
Wassalamu’alaikumWr. Wb.

,          Mei 2019
Penulis 
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR .................................................................................... 2
DAFTAR ISI ...................................................................................................  3
BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang ..................................................................................... 4
  2. Rumusan Masalah ................................................................................ 5
  3. Tujuan .................................................................................................. 5
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 6
BAB III PENUTUP
  1. Kesimpulan ........................................................................................ 26
  2. Saran  ................................................................................................. 26
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang 
Perkembangan embriologi terutama yang berhubungan dengan teknologi-tektnologi yang digunakan dalam rangka meningkatkan produktivitas. Istilah manipulasi memiliki konotasi adanya intervensi atau campur tangan manusia melalui teknologi terhadap proses-proses yang secara alami berlangsung pada gamet dan embrio yang memiliki sifat atau mengekspresikan sifat tertentu sesuai dengan yang dikehendaki.
Berhubungan dengan gamet yaitu sel telur dan spermatozoa Serta proses pembentukan embrio dan perkembangan awalnya. Yaitu terutama sebelum fase implantasi untuk hewan mamalia. Penelitian dalam materi gamet secara bertahap telah berkembang dari aspek morfologi (bentuk ) hingga ke aspek fisiologi (fungsi faal) nya dari mulai tingat seluler (sel) hingga tingkat molekuler (molekul), dan berkembang dari penelitian dasar hingga penelitian terapan. Bahwa yang dianalisis atau diamati adalah karaketer perubahan pada molekul-molekul fungsional pengendalian biologi atau molekul struktural penyusunnya.
Gamet jantan spermatozoa (tunggalnya spermatozoon) mempunyai dua fungsi yaitu membawa dan sekaligus mengantarkan material genetis dari “bapak” serta mengaktifkan program perkembangan dalam telur. Fungsi gamet betina (ovum/telur) adala membawa (separuh) material genetis dari “ibu” dan aktif berkembang menjadi individu setelah dibuahi spermatozoa. Telur adalah istimewa, dan satu-satunya yang memiliki sifat totipotensi yaitu kemampuan untuk berkembang menjadi individu baru. Dalam memahami fungsinya yang amat vital dalam kelangsungan suatu individu, banyak pendekatan telah dipakai untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya.
Kenyataannya bahwa sumber daya hayati kita di seluruh dunia sudah menjadi sangat terbatas. Kita tahu bahwa 12 tahun yang lau, dunia (termasuk indonesia) telah sepakat menandatangani pernyataan mengenai kondisi bumi yang sudah kritis dan perlu penyelamatan segera. Di tanah air kita berbagai peristiwa bencana atau kesengajaan telah merusak ekosistem hutan dan perairan kita. Jumlah penduduk yang banyak, jumalh satwa ternak yang belum memadai, jumlah satwa liar dan dilindungi yang semakin menipis. Semuanya memerlukan pemecahan segera.
Teknologi reproduksi hewan, dengan menggunakan materi gamet dan embrio ditujukan untuk menjawab permasalahn-permasalahn tersebut. Dengan teknologi melalui manipulasi gamet diharapkan peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya alam untuk pemenuhan kebutuhan pada waktu yang dibutuhkan tetap terjamin kesediaanya.
Oleh karena itu beberapa hal yang prinsip mengenai manipulasi gamet dan embrio akan diulas secukupnya di BAB selanjutnnya.
  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Apa yang dimaksud dengan gamet ?
    2. Apa yang dimaksud dengan manipulasi gamet ?
    3. Teknik apa saja yang digunakan pada manipulasi gamet?
    4. Bagaimana cara mengawetkan gamet?
    5. Apa yang dimaksud manipulasi embrio?
    6. Bagaimana metode dan tahapan manipulasi embrio

  1. TUJUAN
    1. Untuk mengetahui apa itu gamet
    2. Untuk mengetahui apa itu manipulasi gamet
    3. Untuk mengetahui teknik yang digunakan untuk memanipulasi gamet
    4. Untuk mengetahui cara mengawetkan gamet
    5. Untuk mengetahui manipulasi embrio
    6. Untuk mengetahui metode dan tahapan manipulasi embrio
BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian Gamet
Gamet adalah sel yang diproduksi oleh organisme untuk tujuan reproduksi seksual. Pada manusia, sel telur dan sperma adalah dua sel seksual, yang berbeda dalam ukuran dan kualitas lain seperti jumlah masing-masing yang diproduksi tubuh. Masing-masing sel memiliki 23 kromosom, persis setengah dari jumlah yang ditemukan dalam sel-sel tubuh lainnya. Mereka dibentuk oleh divisi khusus seluler yang disebut meiosis, yang hanya terjadi pada organ seks primer – testis dan ovarium. Fertilisasi menggabungkan gamet dari kedua orang tua menjadi zigot.Organisme seksual membuat tipe khusus dari sel, gamet, yaitu menggabungkan dengan sel lain untuk reproduksi. Pada manusia, masing-masing berisi satu sepasang kromosom 23, dan dengan demikian haploid, sementara sel-sel lain adalah diploid, dengan dua pasang kromosom. Ini 23 pasangan berbeda pada pria dan wanita, dan apa yang membedakan dua jenis kelamin biologis, dengan laki-laki yang memiliki pasangan XY dan wanita XX. Kromosom terdiri dari string panjang gen diikat secara berurutan. Karena telur atau ovum, sel wanita, hanya dapat membawa kromosom X, jenis kelamin ditentukan oleh gamet jantan.
Pembagian normal sel untuk menghasilkan salinan baru dari aslinya terjadi melalui proses yang disebut mitosis. Suatu pembagian yang sedikit berbeda, meiosis, menghasilkan gamet baru. Kedua proses melibatkan penyalinan DNA dari inti sel induk dan transfer ke yang baru, tapi meiosis melibatkan kombinasi khusus DNA dari kedua gamet asli orang tua ‘. Ini rekombinasi informasi turun-temurun memungkinkan untuk keanekaragaman sifat diwariskan dalam gamet yang baru diproduksi, itu adalah alasan mengapa anak-anak memiliki campuran gen dari kedua orang tuanya.
Ukuran dan kuantitas relatif membedakan laki-laki dari gamet perempuan. Gamet jantan, sperma, yang motil, kecil, dan diproduksi dalam jumlah besar, yang hanya sedikit yang pernah mencapai fertilisasi. Telur, sel wanita, besar, dengan sitoplasma yang akan memelihara embrio jika terjadi pembuahan. Beberapa spesies ganggang dan tanaman tidak memiliki gamet jantan dan betina terpisah, tetapi berkembang biak dengan menggabungkan sel identik secara genetik. Dalam spesies aseksual, tidak ada gamet diproduksi, dan sel hanya membagi dengan bentuk mitosis.
Gamet jantan dan sperma diproduksi di testis, dalam proses yang disebut spermatogenesis. Setiap sel testis yang mengalami meiosis menghasilkan empat gamet baru. Dalam ovarium betina, ovarium folicles menghasilkan sel telur selama proses disebut oogenesis yang sebagian besar dicapai pada saat lahir, tetapi yang selesai setelah pubertas selama siklus ovarium bulanan, ketika telur matang dan menjadi siap untuk dibuahi. Pada saat pembuahan, gamet bersatu, dan zigot terbentuk. Sel ini memiliki 46 kromosom, dengan jumlah yang sama disumbangkan oleh setiap orang tua.
  1. Manipulasi Gamet
Dalam meningkatkan produktivitas teori gamet dalam bidang perkembangan embriologi berhubungan dengan teknologi-teknologi, salah satunya adalah dengan memanipulasi gamet. Manipulasi gamet adalah gamet yang dimanipulasi dengan teknologi-teknologi yang sudah dipelajari seperti teknologi pemasakan gamet in vitro, pembuahan buatan serta pengawetan gamet. tujuan teknologi manipulasi adalah diharapkan peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya alam untuk pemenuhan kebutuhan.

  1. Teknik yang Digunakan Pada Manipulasi Gamet
  1. Pemasakan Gamet In Vitro
Teknik pemasakan gamet in vitro dikembangkan antara lain untuk memecahkan masalah ketersedian gamet yang mudahdigunakan dan terkontrol. Tujuan lain pengembangan teknik ini dalah upaya-upaya untuk memahami proses biologi dari gamet itu sendiri. Proses pembentukan gamet yang demikian kompleks dari gametonium berkembang menjadi gamaet yang siap untuk dibuahi melibatkan banyak sekali faktor yang rinci dan persisnya ingin diketahui seluruhnya. Apabila seluruh faktor pembentukan gamet dapat diketahui maka akan bermanfaat untuk memodifikasi dalam rangka mendapatkan gamet yang diinginkan.
Sejauh ini teknik-teknik yang dikembangkan masih belum sepenuhnya mengungkap semua faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan gamet. Teknik yang telah berkembang dan banyak memberikan data memiliki kontribusi yang sangat berharga terhadap pemahaman biologi gamet adalah dalam proses pemasakan gamet. Pemasakan gamet merupakan tahapan terakhir dari proses pembentukan gamet atau gametogenesis yang panjang dan kompleks.
Faktor- faktor yang berperan dalam proses pemasakan gamet telah dapat diungkapkan, walaupun belum keseluruhannya, namun cukup berarti untuk kebutuhan saat ini. Kontribusi hasil penelitian in vitro sangat nyata dalam hal mengungkapkan faktor yang berperan tersebut. In vitro arti bahasa harfiahnya adalah dalam tabung (in=dalam, vitro=tabung).
Dari hasil penelitian dan percobaan yang dilakukan diketahui bahwa faktor hormon, dan faktor-faktor untuk pemasakan gamet sekarang ini mulai dapat diformulasikan. Formula atau resep berapa banyaknya hormon dan jenis hormon apa serta kapan diberikan termasuk berapa lama hormon diberikan dalam kultur gamet in vitro akhirnya dapat diketahui. Pada masa kini, ada beberapa resep media pemeliharaan gamet untuk dibuat masak secara in vitro di laboratorium.
Gamet betina (sel telur) pada saat diovulasikan secara alami atau disebut telah masak, umumnya adalah gamet betina pada tahapan oosit sekunder fase profase. Jadi bukan tahapan ovum atau ootid yang diovulasikan secara alami. Jadi belum mengalami pembelahan meiosis kedua untuk membentuk polar bodi atau badan kutub dan ootid. Kecuali pada beberapa hewan tertentu yang tahapan gametnya saat diovulasikan adalah pada tahap oosit primer, dan oleh karena itu pada saat diovulasikan gamet tersebut tidak siap untuk dibuahi atau belum masak. Jadi perlu mengalami pemasakan sebelum dapat dibuahi. Secara keseluruhan, gamet betina ketika diovulasikan umumnya telah siap untuk dubuahi gamet jantan. Yaitu gamet betina pada saat mencapai tahapan oosit sekunder pada profase kedua dari meiosis kedua
Tahapan siap dibuahi ini adalah relatif pendek, dan secara alami tercapai bila kondisi hormonal dan faktor fisiologis lain yang saling berinteraksi dapt dipenuhi. Jika tidak gamet tidak pernah bisa dibuahi dan akhirnya mati. Teknik pemasakan gamet betina in vitro biasanya dilakukan dengan mengoleksi segala tahapan oosit dari suatu ovarium. Yang dijadikan koleksi materi penelitian in vitro adalah oosit primer dan kemudian dikulturkan dalam medium yang mengandung faktor-faktor (termasuk hormon) yang membantu kehidupan dan pemasakan gamet, yang tentu saja dengan jumlah dan komposisi tertentu disebut sebagai formula atau resep. Jumlah dan komposisi resep dikembangkan dari hasil-hasil penelitian dan dapat diketahui dari publikasi-publikasi hasil-hasil penelitian, atau mungkin saja digunakan sebagai aset perusahaan yang tidak dapt diketahui oleh umum. Kadang-kadang resep atau formula dirahasiakan karena resep tersebut telah menjadi hak suatu laboratorium tertentu untuk kepentingan bisnis.
Kultur gamet in vitro dilakukan dalam alat inkubator khusus. Inkubator khusus tersebut bukan hanya stabil dalam temperatur namun juga stabil dalam kanungangas-gas di dalamnya karenakandungan gas tersebut terutama CO2O2N, telah diatur sehingga memudahkan untuk mengontrol lingkungan secara lebih akurat untuk menjaga kestabilan kultur gamet.
Dari hasil-hasil analisis, baik analisis morfologi maupun analisis fungsi dari gamet yang dikembangkan secara in vitro tersebut, diketahui bahwa proses pemasakan gamet hasil penelitian in vitro memakan berapa lama. Dengan kata lain waktu keadaan gamet yang dimasakkan invitro siap digunakan untuk pembuahan, hal itu dapat juga diketahui dari lama waktu kultur dan bentuk morfologi gamet untuk dipastikan suatu gamet betina yang dikultur untuk dimasakkan in vitro tersebut, belum siap atau telah siap untuk digunakan dalam proses pembuahan yang biasanya juga in vitro.
Kultur pemasakan gamet jantan (sel spermatozoa) in vitro umum dilakukan pada kelompok hewan mamalia untuk tujuan membuat gamet jantan tersebut terkapasitasi. Berbeda dari gamet betina yang dikeluarkan dari ovarium masih dalam stadium oosit. Jadi gamet jantan yang keluar dari testis merupakan sel gamet haploid yang telah selesai menjalani metamorfosis menjadi sel dengan kepala dan ekor, struktur yang sesuai dengan fungsinya untuk mengantarkan material genetis jantan dan mengaktifkan program perkembangan telur.
Spermatozoa pada kelompok mamalia yang ke luar dari testis tidak siap untuk membuahi, mereka harus menjalani prosees pemasakan fisiologi terlebih dahulu untuk dapat kemampuan membuahi. Proses pemasakan fisiologi terakhir untuk menjadi gamet yang telah memiliki kapasitas ini biasanya dilakukan secara in vitro. Pada kelompok hewan selain mamalia, spermatozoa yang keluar dari testis dapat langsung digunakan untuk membuahi telur dalam spesiesnya. Jadi tidak memerluakan proses pemasakan kapasitas.
Manipulasi proses kapasitasi gamet jantan spermatozoa in vitro dilakukan dalam inkubator khusus seperti halnya proses pemasakan gamet betina in vitro. Ini berlangsung relatif lebih mudah dibandingkan dengan manipulasi pemasakan gamet betina in vitro, dalam arti medium dan resepnya sebenarnya kekomplekan spermatogenesis tidak lebih sederhana dari oogenesis keduanya sama-sama kompleks. Secarain vitro, proses oogenesis in vitro telah berkembang lebih dulu, dibandingkan partnernya, spermatogenesis. Penyebabnya mungkin karena interaksi sebagai yang terlibat dalam proses spermatogenesis lebih kompleks, sehingga metode in vitronya tidak atau belum semaju oogenesis. Faktor-faktor yang menentukan spermatogenesis mungkin jauh lebih kompleks.
Kemungkinan lain adalah kenyataan bahwa spermatogenesis in vitro lebih ketinggalan dari manipulasi oogenesis in vitro karena gamet betina lebih banyak diperlukan untuk proses pembuhahan baik pembuahan buatan maupun pembuahan in vitro, dibandingkan dengan kebutuhan spermatozoa. Hal ini mungkin karena di alam lebih mudah memperoleh gamet jantan dengan jumlah yang jutaan dibandingkan dengan peroleh gamet, betina di alam yang jauh lebih sedikit. Seperti diketahui dalam proses pembuahan yang diperlukan hanyalah satu gamet betina untuk satu gamet jantan.
Prosedur kapasitas in vitro adalah prosedur pemasakan gamet jantan in vitro yang telah berkembang sedemikian majunya sehingga dari medium yang sederhana sehingga kompleks dapat digunakan untuk memperoleh gamet jantan yang siap digunakan untuk pembuahan. Penambahan suatu zat ke dalam medium dasar untuk kultur sel bahkan telah berhasil untuk membuat spermatozoa mengalami kapasitasi dan siap digunakan untuk pembuahan in vitro maupun pembuahan buatan
  1. Pembuahan Buatan
Pengertian dan maksud pembuahan buatan berbeda dengan pembuahan in vitro. Pembuahan buatan adalah manipulasi dalam bidang reproduksi hewan yang dilakukan untuk memperoleh keturunan seperti yang diharapkan. Manipulasi pertama yang dilakukan manusia adalah pembuahan buatan. Manipulasi dilakukan untuk mengontrol faktor-faktor seperti musim atau cuaca yang mempengaruhi proses reproduksi menjadi terkontrol. Maksud lain adalah untuk mengatur waktu atau saat hewan bereproduksi sesuai waktu yang dikehendaki manusia.
Pembuahan buatan adalah manipulasi reproduksi yang pertama kali dilakukan manusia untuk mengatur reproduksi hewan termasuk pada hewan air. Pembuahan buatan ini telah dipraktikkan sehari-hari oleh budidaya ikan atau petani ikan. Manipulasi ini dimulai dari persiapan induknya yaitu dengan manipulasi hormonal menggunakan ekstrak hipofisa dalam prosedur hipofisa atau hormon lain termasuk hormon sinetik. Dengan manipulasi tersebut diharapkan dapat dihasilkan gamet-gamet fertil pada waktu diperlukan, jadi tidak tergantung misalnya musim.
Hasil studi morfologi telur diketahui bahwa telur selalu memiliki bungkus telur. Bungkus telur yang langsung berhubungan dengan telur (disebut bungkus primer) adalah zona pelucida (ZP). Ada telur yang memiliki bungkus tambahan seperti bungkus sekunder dan bahkan bungkus tersier. Bungkus ini bahkan tetap ada ketika telur telah dibuahi dan berkembang hingga tahapan tertentu. Bungkus telur itu hilang atau rusak, waktunya atau saatnya berbeda pada satu spesies dengan lainnya, jadi tergantung pada spesies atau jenisnya. Telah lama diketahui pula bahwa bungkus telur memiliki fungsi untuk menyeleksi spermatozoa mana yang dapat menembusnya untuk membuahi telur.
Hanya spermatozoa dari spesiesdari spesies yang sama yang dapat menebusnya. Fungsi tersebut kemudian dikenal sebagai barier spesies. Kalaupun ada spermatozoa kambing dicampur dengan telur manusia dalam satu cawan pembuahan, maka telur manusia tak dapat dibuahi oleh spermatozoa kambing karena bungkus telur menghalanginya, kalaupun demikian halnya, timbul pemikiran apabila bungkus telur dihilangkan, daptkah telur itu kehilangan seleksi spesiesnya? Jawabannya adalah ya. Dengan perkiraan perkembangan embrio hanya sampai batas tertentu saja. Hal itu disebebkan oleh masing-masing sistem biologi spesies tertentu mempunyai sifat-sifat autoimun sendiri (reaksi anti gen-anti bodi). Eksperimen in vitro memang membuktikan adanya kekhususa di antara spesies-spesies. Untuk menguji kemampuan spermatozoa untuk membuahi telur, telur hamster banyak dipakai mungkin dikarenakan telur hamster mudah diperoleh dan dihilangkan bungkus telur zona pelucidanya dengan enzim.
Contoh penggunaannya adalah pada pasien yang belum dikarunia anak dengan penyebab yang belum diketahui. Pada pemeriksaan air mani dari bapak, diuji kemampuan spermatozoanya dengan menggunakan telur hamster yang telah dibuang zona pellucidanya (dan telur yang digunakan untuk percobaan tersebut disebut zona free egg, telur yang tidak memiliki zona pellucida karena zona pellucidanya sengaja dihilangkandengan perlakuan). Hasil uji coba ini dapat menunjukkan bahwa ada masalah atau tidak dengan kemampuan spermatozoa per mililiter air mani, gerakan spermatozoa dan menunjukkan hasil yang baik.
Pada manipulasi pembuahan gamet jantan maupun gamet betina dapat diperoleh dari proses pemasakan alami in vivo ( dalam tubuh). Atau pun gamet jantan berasal dari proses pemasakan in vivo dan gamet betina dari hasil pemasakan in vivo. Atau sebaliknya, yang pasti bahwa dalam proses pembuahan buatan tempat terjadinya pembuahan adalah pada atau di tempat di mana secara alami pembuahan terjadi, yaitu pada ampula dari tuba falopi pada bangsa mamalia atau di lingkungan air pada hewan yang fertilisasinya eksternal seperti ikan dan katak.
Cara memasukkan gamet ke tempat pembuahan misalnya dengan jalan menyuntikkan spermatozoa langsung ke bagaian ampula ibu pada waktu yang telah diketahui sekitar ovulasi terjadi. Ovulasi bisa diketahui terjadi dikarenakan monitoring yang terus menerus dan insetif. Monituring itu dilakukan bisa dengan pemberian hormon dan perlakuan untuk terjadi ovulasi. Dari sisi gamet jantannya spermatozoa, bisa berasal daari ejakulat bapak(suami) dengan atau tanpa perlakuan kapasitas dan atau lainnya terlebih dahulu.
Pada ternak, pembuahan buatan dikenal dengan istilah AI (atau IB), singkatan dari “artificial insemination” atai inseminasi buatan atau terjemahannya pembuahan buatan. Pembuahan buatan pada ternak biasanya dilakukan dengan mengguanakan semen beku yang diperoleh dari bibit unggul impor dan disemprotkan ke dalam vagina hewan ternak betina yang tengah birahi (sekitar waktu ovulasi) yang dapat dilihat secara visual dengan mudah. Pada hewan yang pembuahannya eksternal istilah pembuahan buatan mudah sekali dirancukan untuk dengan pembuahan in vitro.
Satu hal yang penting untuk dicatat dalam ingatan adalah hasil yang diperoleh dari proses pembuahan buatan haruslah tetap dilekatkan pada kerangka pembuahan buatan. Faktor-faktor yang perperan dalam proses pembuahan alami jauh lebih kompleks dan banyak yang tidak mudah untuk dikontrol seperti halnya dengan proses pembuahan buatan yang beberapa faktor penting memungkinkan untuk dikontrol. Tentu saja membandingkan dengan hasil pembuahan alami untuk tujuan pembahasan adalh baik, terutama dalam kerangka untuk melihat efektivitas dan efisiensi prosedur.
  1. Pembuahan In Vitro = Pembuahan Dalam Tabung ( In Vitro Fertilisai=IVF)
Banyak yang mencampuradukkan pengertian pembuahan buatan dengan pembuahan in vitro (pembuahan di tabung atau IVF). Bedanya kalu pembuahan buatan adalah tempat terjadinya dan seterusnya di tempat dimana proses pembuahan secara alami biasa terjadi, namun yang dibuat atau dimanupulasi adalah pemasakan gametnya atau waktu pertemuan antara gamet-gametnya yang dibuat, contoh yang riil misalnya inseminasi buatan pada hewan ternak.
Kerancunan dua istilah tersebut mungkin terjadi manakala manipulasi ini diterapkan untuk hewan-hewan yang proses pembuahannya secara alami terjadi di luar tubuh induknya atau disebut cara pembuahan eksternal, seperti ikan. Diharapkan dengan mengetahui kedua perbedaan tersebut tidak lagi rancu mana yang pembuahan buatan dan mana yang pembuahan dalam tabung.
Prosedur IVF yaitu gamet betina (telur) dalam medium buatan, yang diperoleh dari pemasakan alami atau in vitro, dipertemukan dengan spermatozoa untuk proses pembuahan dalam sebuah tabung atau cawan petri. Gamet jantan spermatozoa yang digunakan bisa diperoleh dari ejakulat alami lalu diinkubasi in vitro terlebih dahulu (yang biasa dilakukan adalah diinkubasi terlebih dahulu) untuk pemasakan spermatozoa yang telah siap tersebut selanjutnya diinkubasi dalam inkubotor khusus untuk dibiarkan bergabung (proses pembuahan) menjadi 
zigot dan melakukan pembelahan (cleavege) hingga stadium tertentu dalam inkubator khusus itu.
Setelah tahap ini sebenarnya sudah masuk stadium embrio yang akan dibahas pada kegiatan belajar kedua. Embrio kemudian dapat diimplantasikan ke induk, bila itu embrio hewan mamalia atau manusia. Induk yang diimplantasikan embrio hasil pembuahan in vitro tersebut dapat induk asli, yaitu induk dari mana sel telur berkembang (embrio) itu berasal, ataupun induk lain yang biasa disebut foster mother atau induk semang. Keterangan rinci akan akan dibahas dalam kegiatan belajar dua bagian transfer embrio.
  1. Pengawetan Gamet
            Pengawetan gamet adalah upaya-upaya dalam rangka membuat gamet menjadi lebih lama umurnya dibandingkan dengan umur dalam kondisi alaminya. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa gamet, telur maupun spermatozoa adalah sel-sel yang umurnya terbetas. Keterbatasan tersebut sangat mengganggu pengembangan teknologi yang digunakan untuk menghasilkan individu baru sesuai keinginan.
Gamet betina (sel telur), seperti diketahui umurnya sangat pendek, maksudnya adalah periode untuk dapat dibuahi sangat pendek yaitu ketika sel telur matang pada stadium oosit sekunder fase profase. Profase meiosis kedua dari sel telur tidak dapat secara alami, berlangsung lama. Bila tidak ada kondisi yang membuat fase profase tersebut meneruskan dan menyelesaikan fase pembelahannya, dalam kondisi alami telur akan tidak dapat dibuahi oleh spermatozoa. Telur yang demikian tersebut disebut telur yang lewat masuk dan akan mati, jadi telur yang belum masak atau telur yang lewat masak, keduanya tidak dapat dibuahi artinya tidak dapat menjadi individu baru. Hanya telur dalam fase tertentu dan waktunya amat pendek yang dapt dibuahi dan menghasilkan individu baru. Oleh karena itu beberapa upaya melalui tek nologi dilakukan untuk membuat umur telur-telur dibuat lebih lama untuk dapat dibuahi.
Cara pendekatan untuk mengembangkan teknologi pengawetan fungsi telur adalah dengan membuat telur tidak aktif ketika belum digunakan. Cara membuat telur tidak aktif antara lain memberikan kondisi lingkungan yang memungkinkan telur tidak melakukan aktivitas metabolisme atau aktivitas metabolisme yang dilakukan pada level terendah. Langkah yang umum dikerjakan biasanya dengan meletakkan telur dalam kondisi yang seharusnya . misalnya telur disimpan dalam medium seperti ketiaka telur berada dalam ovarium. Diketahui bahwa dalam ovarium , telur dapat bertahan lama, namun sekali diovulasikan maka umurnya menjadi terbatas. Dengan meletakkan telur dalam kondisiyang mirip dalam ovarium diharapkan telur dapat bertahan lama, atau umurnya lebih panjang untuk dapat dimanfaatkan. Dengan demikian walaupun ketika telur tersedia kebetulan belum waktu proses pemnuahan in vitro bisa siap dikerjakan pada waktu tersebut, maka telur dapat diproses untuk pengawetan gamet dan siap digunakan ketika sistem pembuahan in vitro siap dioperasikan.
Pada masa kini untuk pengawetan gamet betina telur tidak hanya dikembangkan cara pengambilan cairan ovarium untuk medium tempat telur disimpan untuk diawetkan, bahkan telah dikembangkan juga cairan ovarium sintetik yang memenuhi untuk penyimpanan telur. Pada telur ikan yang pembuahannya eksternal, karena ketersediaan cairan ovarium yang sulit dipenuhi, telah dikembangkan metode penyimpanan telur pada kondisi kering, tanpa cairan, dan pada temperatur rendah. Hasilnya meyakinkan bahwa telur ikan yang disimpan dalam kondisi kering dan pada temperatur rendah selama 4 jam masih dapat dibuahi oleh spermatozoa dan menghasilkan anakan yang variabel atau hidup.
Pada telur-telur dari pasien klinik program bayi tabung, beberapa darinya dimungkinkan diperlukan disimpan atau diawetkan dengan metode pembekuan dan pencairan dengan zat pelindung pembekuan atau disebut krioprotektan. Telur yang telah dilindungi zat krioptektan kemudian dibekukan dalam nitrogen cair. Lama dalam pembekuan ini bisa berhari-hari atau lebih berbulan-bulan. Lama waktu penyimpanan ini disesuaikan dengan kondisi pasien untuk menerima telur terbuahi atau untuk menerima implantasi bayinya. Pada waktu akan dilakukan pembuahan maka telur yang diawetkan dengan pembekuan tersebut dicairkan terlebih dahulu, dikembalikan ke temperatur fisiologis dengan hati-hati untuk kemudian dibuahkan dengan spermatozoa.
Proses pembekuan pencairan biasa dilakukan pada telur yang telah berkembang atau embrio. Gamet jantan spermatozoa walaupun tidak sependek gamet pasangannya, umumnya juga relatif pendek. Gamet jantan spermatozoa setelah diejakulasikan memiliki umur terbatas untuk dapat bertemu telur dan membuahinya. Bila pada rentang umurnyatidak bertemu telur dan membuahi, maka spermatozoa juga akan tidak memiliki kemampuan membuahi dan mati.
Berbeda dari telur yang disimpan dan diawetkan didalam medium ovarium, baik alami maupun sintesis, spermatozoa umumnya tidak disimpan untuk diawetkan demikian. Medium untuk penyimpanan berupa semen atau milt ditambahkan zat-zat penyedia energi seperti gula dan turunan-turunan gula. Gula atau zat-zat energi tersebut dimaksudkan untuk menyediakan substrat bagi spermatozoa untuk dimetabolisir menjadi energi dalam rangka memperpanjang umurnya. Umur spermatozoa yang relatif pendek disebabkan karena jumlah sitoplasma yang dimiliki spermatozoa amatlah sedikit dan oleh karenanya ketersediaan bahan untuk dimetabolisir menjadi energi juga amat terbatas, akivatnya umur amat terbatas. Apabila bahan penyedia energi disuplai dari luar sel spermatozoa, maka sel gamet tersebut dapat mengambilnya dan memanfatkannya sebagai sumber energi untuk memperpanjang masa variabel atau hidupnya.
Cara lain untuk mengawetkan gamet jantan spermatozoa adalah dengan metode pembekuan dan pengenceran. Cara ini yang umum diterapkan untuk spermatozoa dari pejantan-pejantan unggul untuk diinseminasikan secara buatan kepada betina-betina yang dikehendaki. Cara pengawetan dengan metode pembekuan ini diterapkan di bank-bank sperma. Bank sperma adalah tempat penyimpanan plasma nuftah spermatozoa (manusia) untuk dipakai sebagi donor dalam prosedur pembuahan bayi tabung atau in vitro fertilisasi. Donor bank sperma berasal dari laki-laki yang karena keputusannya sendiri ingin menyimpan sperma atau maninya di bank sperma untuk suatu ketika barangkali diperlukan. Biasanya laki-laki (bapak-bapak) yang menyimpan spermanya di bank sperma adalah yang hendak melakukan vasektomi, yaitu artinya ejakulat akan bebas dari sel spermatozoa. Vasektomi adalah salah satu metode dalam keluarga berencana dalam rangka usaha tidak menurunkan keturunan lagi. Untuk menjaga kalau suatu hari kelak sang bapak yang telah divasektomi tersebut berubah pikiran ingin memiliki keturunan kembali dan apabila akibat vasektomi masalah kesuburannya menjadi terganggu. Maka sperma yang disimpannya di bank sperma dapat digunakan untuk menginseminasi telur istrinya dalam program bayi tabung atau program pembuahan buatan, dengan penyuntikan spermatozoa ke saluran telur istrinya pada waktu telur dekat siap dikeluarkan untuk dibuahi.
Pengawetan atau penyimpanan dengan pembekuan ini juga dilakukan dengan penambahan zat-zat pelindung pembekuan atau krioprotektan. Spermatozoa dengan krioprotektan dibekukan dengan cepat dan disimpan dalam tabung nitrogen cair. Dengan cara ini gamet bisa disimpan selama bertahun-tahun bahkan puluhan atau ratusan tahun bila perlu.
Pada masa kini, tabung nitrogen cair yang berisi sel-sel gamet yang diawetkan menjadi barang bawaan petugas penyuluh lapangan dari dinas-dinas peternakan dan atau balai penelitan dalam upaya memperoleh keturunan yang diunggul atau lebih baik dari yang sudah ada. Artinya bibit lokal hewan-hewan ternak petani dikawinkan dengan bibit unggul yang berupa spermatozoa dari pejantan unggul, sehingga diharapkan dapat menghasilkan ternak dengan sifat-sifat unggul orang tuanya. Mendatangkan hewan atau induk unggulnya langsung, jauh lebih mengandung resiko seperti masalah keamanan transportasi, penyesusaian terhadap perbedaan iklim dan cuaca yang bisa menggangu kesehatan ternak dan sebagainya, maka sebagai gantinya adalah sel-sel gametnya yang amat memadai. Tentu saja sel gamet tersebut harus terjamin dapat dipakai pada waktu dibutuhkannya yaitu harus telah mengalami proses pengawetan atau penyimpanan. 
  1. Manipulasi Embrio

Manipulasi menurut KBBI online adalah tindakan untuk mengerjakan sesuatu dengan tangan atau alat-alat mekanis secara terampil. Manipulasi merupakan sebuah proses rekayasa (penambahan, pengurangan, pengkaburan) sebuah realitas dengan melibatkan alat dan metoda yang telah disusun dengan maksimal, sehingga hasil sesuai dengan keinginan dan tujuan manusia (tujuan pelaksanaan manipulasi). Embrio menurut Gordon (2003) dalam Gunawan et al. (2014) merupakan indikator dari berhasilnya proses fertilisasi (pertemuan spermatozoa dan oosit) yang kompleks. Jadi, manipulasi embrio merupakan segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia (peneliti dan peternak) untuk merekayasa embrio yang merupakan bagian penting dari perkembangan seekor ternak dilakukan untuk mencapai tujuan pemeliharaan.
Teknologi fertilisasi in vitro (IVF) saat ini masih dilakukan dengan memanfaatkan oosit segar, namun kendala yang dihadapi adalah oosit mamalia memiliki daya tahan hidup yang sangat terbatas sehingga tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama pada suhu kamar.
 Keterbatasan waktu simpan ini dapat diatasi dengan teknik penyimpanan beku atau kriopreservasi oosit untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel sehingga viabilitas oosit dapat dipertahankan dengan cara mereduksi fungsi dan aktivitas metabolik tanpa terjadinya kerusakan membran maupun Teknologi rekayasa reproduksi khususnya kriopreservasi telah cukup banyak dikembangkan untuk spermatozoa dan embrio, namun sejauh ini keberhasilan kriopreservasin oosit yang telah dilaporkan masih sangat terbatas dan variatif. Keberhasilan kriopreservasi oosit akan memungkinkan tersedianya oosit beku sehingga mempermudah pengaturan waktu di dalam produksi embrio in vitro dan secara umum merupakan upaya penyimpanan dan pemeliharaan plasma nutfah. Selain itu, keberhasilan kriopreservasi oosit akan memperbaiki teknik penyediaan embrio sehingga oosit segar tidak diperlukan lagi.
Penggunaan prosedur kriopreservasi oosit secara komersial masih sangat terbatas salah satu tantangan adalah membuat metode kriopreservasi oosit yang menjamin viabilitas tinggi. Terdapat dua metode kriopreservasi yaitu metode konvensional dan vitrifikasi. Kedua metode ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pada awal studi tentang kriopreservasi, dilakukan kriopreservasi menggunakan metode konvensional, namun saat ini metode vitrifikasi lebih sering diaplikasikan. Kelebihan dari metode vitrifikasi adalah pemadatan cairan tanpa melalui pembentukan kristal es (Shaw et al., 2000). Metode tersebut sederhana, murah, dan tidak memerlukan alat khusus untuk menurunkan suhu secara bertahap sehingga mudah diaplikasikan ditempat yang memiliki kontainer nitrogen cair.
Selama proses kriopreservasi diperlukan suatu krioprotektan. Krioprotektan selain dapat melindungi sel juga ternyata diduga dapat menimbulkan kerusakan pada sel akibat pengaruh toksisitasnya. Derajat proteksi dari bahan krioprotektan terhadap proses kristalisasi pada masa pembekuan tergantung dari jenis dan konsentrasi krioprotektan yang dipakai serta lama paparan. Dari beberapa penelitian tentang kriopreservasi oosit, diketahui ada bermacam-macam krioprotektan yang dapat dipergunakan untuk vitrifikasi oosit, namun demikian telah diketahui bahwa etilen glikol (EG) mempunyai efek toksik yang lebih rendah dibandingkan krioprotektan yang lain . Hasil penelitian Wani et al. (2004) menunjukkan bahwa tingkat fertilisasi in vitro oosit setelah proses vitrifikasi menggunakan DMSO sebesar 12,3%. Tingkat fertilisasi oosit menggunakan EG belum pernah dilaporkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan adalah mengkaji pengaruh konsentrasi EG dan lama paparan terhadap tingkat oosit terfertilisasi.

  1. Metode dan Tahapan Manipulasi Embrio

  1. Penyiapan Embrio 
Embrio yang akan dibekukan (kriopreservasi) dapat berasal dari fertilisasi secara invivo maupun invitro. Embrio secara invivo kurang lebih mirip dengan Inseminasi buatan (IB) terhadap induk donor yang di perlakukan dengan penyuntikan hormon super ovulasi (Multy ovulation / MO) sehingga akan diperoleh Embrio lebih dari satu. Tingkat keberhasilan fertilisasi invivo lebih baik dibandingkan invitro (Sumadiasa dan Yuliani, 2008). Fertilisasi juga dapat dilakukan dengan cara invitro dalam cawan petri berisi medium isotonik. Seperma yang digunakan untuk fertilisasi dapat berupa sperma yang masih fresh (baru di ambil dari donor jantan) atau sperma yang dibekukan (bank sperma jantang unggul) Sperma dan ovum dihasilkan hasilkan dari penajntan dan induk betina yang unggul (hasil seleksi) sehingga diharapkan akan mengasilkan pedet yang unggul pula. 
  1. Seleksi Kelayakan Embrio 
Tujuan penyeleksian Embrio adalah untuk memilih Embrio yang berkualitas dan layak untuk kriopreservasi. Tahapan seleksi ini adalah : 
• Specimen yang diambil dari saluran rproduksi donor betina di taruh dalam media isotonic selama 10 menit sebelum di evaluasi dengan menggunakan mikroskopik dengan menggunakan pembesaran rendah untk memastikan kelayakan Embrio untuk di tranfer misalnya rjadi terfertilisasi atau tidak, ada tidaknya kerusakan Embrio. Tahapan yang sesuai untuk kriopreservasi adalah Embrio yang telah mencapai tahap morula sampai blastosis. Yang tidak memnuhi kriteria di buang. 
• Dengan menggunakan pembesaran lebih besar ( ≥ 50X), seleksi kelyakan Embrio dilanjutkan dengan mengamati keutuha zona pelluzida. Jika zona pellucida pecah, tidak ada atau ada materi lain yang menempel maka Embrio harus tidak dipakai. 
  1. Pencucian embrio 
Tujuan pencucian Embrio untuk menghilangkan kemungkinan adanya penyakit terbawa. Tahapan pencucian adalah: 
• Embrio dalam medium di pindahkan ke dalam medium pencucian. Medium pencucian yang dapat digunakan adalah Phosphate dalam larutan buffer garam (saline) yang diaugmentasi dengan antibiotik dan serum albumin bovine, serum anak (calf)baru lahir 8 atau polyvinyl alkohol (dipastikan bahwa Embrio donor yang berbeda dipisahkan dan dalam sekali pencucuan tidak lebih dari 10 Embrio.. • Embrio masih dalam sedikit medium pencucian dipindahkan ke setiap series pencucian berikutnya sehingga pengenceran yang terjadi akibat pemindahan medium ke media pencucian berikutnya lebih dari 1 : 100 (pengenceran yang terjadi sangat minimum). Seri tahapan pencucuian dilakukan 4 seris/ ulangan dengan media pencucian berbeda. 
• Selesai pencucian, Embrio ditempatkan dalam medium isotonic. 
• Untuk menghilangkan kemungkinan terkontaminasi virus, sebelum dilakukan pencucin Embrio terlebih dahulu dicuci dua kali dalam larutan trypsin (koncentrasi sekitar 0,25%) dengan total waktu kedua pencuian tidak lebih dari 90 detik. Kemudian dilakukan lima (5) seris pencucian dengan cara seperti dijelaskan sebelumnya. 
  1. Dehydrasi Embrio Tahap Awal (Sebelum Kriopreservasi) 
Tujuan tahap ni adalh untuk menghilangkan molekul air dalam embrio. Tahap ini dilakukan dengan memindahkan Embrio (dalam sedikit meidium isotonic) ke larutan hypertonik (Molar konsentrasi 1,4 – 1,5) agen cryopreservative t (CPA) seperti ethylene glycol or glycerol. Embrio didedahkan dalam larutan CPA hypertonik sampai mencapai keseimbangan psmotik (equilibrium osmoti). Waktu equilibrium ke dua media berbeda, glyserol (10 menit) dan ethylene glycol (5 menit). Sebagian dari waktu equilibrium) mungkin baru tercapai sempurna ketika Embrio sudah di pindah ke pipet plastik. 
  1. Kriopreservasi/ Pembekuan Embrio 
a. Pemindahan Embrio ke pipet plastik 
• Dekatkan pipet plastik (panjangnya 11.5 cm) yang bagian ujungnya ditutup dengan kapas (cotton) dengan alat pemindah Embrio. Isikan kurang lebih 1.3 cm larutan hypetonik CPA ke dalam pipet yang telah diberi label terlebih dahulu. 
• Isikan kurang lebih 0.15 cm udara sehingga membentuk gelembung udara di dalam pipet. 
• Masukkan single Embrio dalam kurang lebih 0.8 cm larutan hypertonik CPA ke dalam pipet plastik. 9 
• Isikan kembali 0.15 cm udara untuk membentuk gelembung udara sebagai pemisah dengan Embrio sebelumnya 
• Isikan kurang lebih 9,1 cm larutan hypertonik CPA untuk mengisi penuh pipet plastik, pastikan untuk mengisikan larutas hypertonic CPA untuk melembabkan tepung polyvinylchloride (PVC) yang terdapat pada kapas (cotton) penutup baagian ujung pipet plastik. Larutan CPA menyebabkan tepung PVC mengental dan menutup bagian ujung pipet plastik. 
• Bagian ujung lainnya dari pipet plastik ditutup dengan tepung PVC, penutup pipet plastik atau dipananskan. 
b. Aklimasi dalam mesin pendingin (suhu sampai – 6oC) 
Tahap ini terdiri dari dua tahap yaitu penyesuaian (aklimasi) suhu dan pembentukan kristal es 
• Penyesuaian (aklimasi) suhu  
Embrio ditempatkan pada mesin pendingin laju Embrio yang terkontrol,  Peralatan (mechine) berupa bak metanol dan atau uap nitrogen cair dipergunakan untuk cryopreservasi preimplantasi Embrio.  Masukkan pipet plastik berisi Embrio ke dalaman ^mesin^/^tempat^ pendingin yang temperaturnya telah diatur diturunkan dari temperature ambang batas ke -6oC. Plastik straw dilettak tegak dengan posisi bagian yang ditutup dengan ^cotton^ di bagian atas (kecuali jika ^ sealer^ atau menggunakan ^adapter^ digunakan sebagai penutup, maka bagian ujung yang ditutup cotton diletakkan di bawah.  Pada suhu tersebut (- 6oC) paling sedikit 2 menit sebelum prosedur berikutnya. 
• Pembentukan kristal es /Kristalisasi Es CPA  
Embrio (dalam pipet plastik) yang telah didinginkan sampai - 6oC, dan kemudian pipet plastik ditempatkan dalam sepasang tabung (tongs) (atau dijepit menggunakan holder  dengan bagian ujung dilapisi kapas).  Tabung berisi pipet Embrio ditempelkan (mencelupkan ^holder/penjepit^ pipet Embrio) ke larutan nitrogen sampai batas atas atau bawah posisi Embrio untuk 10 untuk memacu pembentukan kristal/butiran es (ice crystal) dalam larutan hypertinik CPA.  Kristal es akan terbentuk pada bagian larutan CPA yang didedahkan ke nitrogen cair, kemudian kristalisasi es akan segera menyebar ke seluruh bagian larutan CPA sekitar Embrio.  Tahap pendedahan pipet plastik Embrio dalam nitrogen cair ini dilakukan selama 10 menit. 
  1. Dehydrasi Embrio lanjutan/Pembekuan sampai -34oC 
Pendinginan lanjutan ini sangat penting untuk memastikan kelanjutan proses dehidrasi pada Embrio. Embrio didiinginkan dengan cara menurunkan suhu dengan laju 0,5/ menit sampai -34oC. Pada dehidrasi lanjutan ini Embrio didedahkan ada suhu 34 oC selama 10 menit sebelum di celupkan dalam nitrogen cair(-196oC). 
  1. Pembekuan Embrio Dalam nitrogen cair 
Tempatkan Embrio (dalam pipet plastik) yang telah didinginkan Embrio yang cryopreservasi (cryopreserved Embrio) ke dalam tabung cuvet ( cane)yang telah diberi label, kemudia tempat kan cane ke dalam canister dalam tabung nitrogen cair untuk penyimpanan jangka waktu pendek atau panjang 
  1. Pengangkatan (Thawing) Embrio 
Tahap ini merupakan tahap pengambilan (Thawing)n) Embrio yang dikriopreservasi dalam nitrogen cair (-196oC). 
• Canister yang tercelum diangkat sampai batas leher tabung nitrogen cair (dipastikan bahwa posisi canister masih di bawah batas beku dari tabung). 
• Tabung cuvet diangkat dari canister dan ambil pipet plastik dari tbung Cuvet dengan cepat dan hati-hati (pastikan pengangambilan ini tidak sampai menghangatkan pipet plastik lainnya yang masih dalam kuvet). 
• Dedahkan pipet plastik (berisi Embrio) di udara selama 3-5 detik (untuk mengurangi resiko kerusakkan zona pelucida), kemudian celupkan pipet plastik ke dalam air (dalam wadah) bersuhu 37oC selama 25 – 30 detik 11 • Pipet plastik di angkkat dari awadah air, hilangkan air dengan cara di lap / diusap dengan lap pengering/ kertas tissue ( dilakukan dengan hati hati jangan sampe meninggalkan goresan/ membekas sehingga mengganggu identifikasi Embrio di dalam pipet plastik) 
• Dipotong bagian ujung yang tidak ada kapas penutup dengan pemotong plastik (jika penutup menggunakan pemanas atu serbuk PVC), atau di ambil ^penutu^ pipet plastik dengan hati-hati. 
• Kemudian embrio diambil untuk di transfer ke induk recipient dengan cara:
a. Tuangkan isi pipet plastik ke dalam alat transfer embrio dan embrio ditransfer sesegera mungkin ke induk recipeient yang telah disynkronisasi ( metode ini dilakukan HANYA JIKA Embrio dikkriopreservasi dengan menggunakan ethylene glycol sebagai CPA) 
b. Embrio dituangkan ke dalam cawan petri untuk dilakukan pembilasan untuk menghilangkan kriprotektan. Larutan ang dapat digunakan adalah larutan sukrosa yang non-permeating (1.0 Molar).Penuangan Embrio dilakukan dengan cara Pipet plastik dipengang di atas cawan petri berisi larutan sukrosa (dengan bagian yang telah dipotong menghadap cawan petri). Kemudian bagian uung lain dari pipet plastik dipotong sehingga isi pipet plasting mengalir ke cawan petri (tetapi jika diperlukan dilakukan sedikit penekanan pada kolom gelembung udara pada pipet plastik jika masih ada residu/sisa medium dalam pipet plastik). Embrio didedahkan dalam larutan sukrosa selama 10 menit, dan kemudian di transfer ke media ^pengawet^ isotonic selama 10 menit. Kemudian diamati kelayakan Embrio paska thawing ( pencairan kembali dan pembilasan krioprotektan) berdasarkan morfologis normalnya yaitu: plasma membran utuh, embrio tidak bergranula, sitoplasma jernih dan homogen, tidak ada degenerasi, zona pelucida dan sitoplasma berbatas jelas .Embrio yang layak dituangkan ke dalam pipet pipet plastik yang baru dan kemudian dengan alat transfer embrio di transfer ke indek recipent.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN 

  1. Kesimpulan 
  1. Manipulasi gamet adalah gamet yang dimanipulasi dengan teknologi-teknologi yang sudah dipelajari seperti teknologi pemasakan gamet in vitro, pembuahan buatan serta pengawetan gamet.
  2. Teknik yang digunakan pada manipulasi gamet yaitu pemasakan gamet in vitro, pembuahan buatan, pembuahan in vitro.
  3. Pengawetan gamet adalah upaya-upaya dalam rangka membuat gamet menjadi lebih lama umurnya dibandingkan dengan umur dalam kondisi alaminya.
  4. manipulasi embrio merupakan segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia (peneliti dan peternak) untuk merekayasa embrio yang merupakan bagian penting dari perkembangan seekor ternak dilakukan untuk mencapai tujuan pemeliharaan.
  5. Tujuan Transfer Embrio sendiri yaitu untuk meningkatkan genetik pada keuturunan, memperbanyak keturunan induk yang unggul, meningkatkan potensi genetic waktu yang singkat, meningkatkan produksi susu, meningkatkan bibit unggul untuk disebarkan dan menyelamatkan genetik superior sapi atau organisme.
  6. Tahapan manipulasi embrio yaitu: a. penyiapan embrio, b. Seleksi kelayakan embrio, c.. Pencucian embrio, d. Dehydrasi Embrio tahap awal, e. Pembekuan embrio, f. Pengangkatan embrio
  1. Saran 
Semoga kedepannya kami dapat membuat makalah yang lebih baik lagi dan makalah ini bisa bermanfaat bagi para pembaca, dan kami mohon kritik yang membangun dari teman-teman sekalian agar kedepannya kami dapat lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Afriani, Tinda. Dkk. 2018. Manipulasi Embrio Pada Sapi. Padang: Andalas University Press
Soemito. 2008. Embriologi Hewan. Tangerang: Universitas terbuka


Untuk Mendapatkan Update Berita TERBARU
Follow Kami Juga Di :

Facebook Klik : UPDATE INFO
Instagram Klik : UPDATE INFOO
Telegram Klik : UPDATE INFOO OFFICIAL
Twitter Klik : UPDATE INFOO

Budayakan Membaca Agar Kenali Fakta
Terima Kasih

0 Response to "MAKALAH EMBRIOLOGI (manipulasi gamet dan embrio)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel