LAPORAN HORTIKULTURA PENYEMAIAN TANAMAN CABAI


PENYEMAIAN TANAMAN CABAI
 (Laporan Kegiatan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hortikultura)


                       
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah  ................................................................................... 3
1.3 Tujuan  ..................................................................................................... 3
1.4 Manfaat ................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................ 4
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Alat......................................................................................................... 15
3.2 Bahan...................................................................................................... 15
3.3 Cara kerja................................................................................................ 15
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil........................................................................................................ 17
4.2 Pembahasan ........................................................................................... 22
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ............................................................................................ 25
5.2 Saran....................................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan yang memiliki nama ilmiah Capsicum sp. Cabai berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negara-negara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Indonesia.Tanaman cabai banyak ragam tipe pertumbuhan dan bentuk buahnya. Diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar hidup di Negara asalnya.Cabai merah (Capsicum annum L.) adalah komoditas sayuran yang sangat terkenal dan sangat luas penggunaannya di seluruh dunia. Buahnya dapat dikonsumsi segar, kering atau dalam bentuk yang sudah diproses sebagai sayuran atau bumbu. Warna dan baunya digunakan dalam industri makanan dan pakan ternak seperti ginger beer, hot sauces dan poultry feed, serta beberapa obat-obatan.
Cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung kapsidiol, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan bila digunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur). Cabai dapat ditanam dengan mudah sehingga bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.
Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia, karena memiliki harga jual yang tinggi dan memiliki beberapa manfaat kesehatan. Salah satunya berfungsi dalam mengendalikan kanker karena mengandung lasparaginase dan capcaicin. Selain itu kandungan vitamin C yang cukup tinggi pada cabai dapat memenuhi kebutuhan harian setiap orang, namun harus dikonsumsi secukupnya untuk menghindari nyeri lambung. Selain sebagai bumbu masak, buah cabai juga digunakan sebagai bahan campuran industri makanandan untuk peternakan.
Budidaya cabai merah akan dihadapkan dengan berbagai masalah diantaranya teknis budidaya, ketersediaan hara dalam tanah, serangan hama dan penyakit. Maka dari itu perlu dukungan teknologi budidaya intensif baik itu terkait dengan pemupukan, proses pengolahan lahan, pemeliharaan, maupun penerapan-penerapan teknologi tepat guna dalam proses budidayanya. Pemberian 2 unsur hara yang tepat sesuai dengan kebutuhan, waktu tanam, dan penempatan hara pada daerah serapan akar juga menjadi pendukung dalam keberhasilan budidaya tanaman cabai. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi cabai sekaligus menanggulangi banyaknya permintaan masyarakat tersebut adalah dengan manajemen pemupukan yang menjadi bagian dari intensifikasi pertanian.
Tanaman cabai dibudidayakan dengan dua macam cara yaitu secara langsung dan tidak langsung atau persemaian. Persemaian merupakan suatu proses menyiapkan bibit tanaman baru sebelum ditanam pada lahan sesungguhnya. Benih tanaman disemaikan pada suatu tempat berlebih dahulu hingga pada usia tertentu baru dipindahkan ke lahan. Penyemaian ini sangat penting, terutama pada benih tanaman yang halus dan tidak tahan terhadap faktor-faktor luar yang dapat menghambat proses pertumbuhan benih menjadi bibit tanaman.
Pemilihan benih yang tepat menjadi hal yang sangat penting karena ini sangat erat hubungannya dengan kualitas tanaman yang akan kita rawat nantinya. Oleh karena itu kita harus teliti dalam hal memilih benih. Benih yang akan kita tanam harus sesuai dengan kondisi cuaca, ketinggian tanah dari permukaan laut, musim, kelembaban dan lain sebagainya. Hal itu dilakukan untuk menunjang keberhasilan budidaya tanaman yang mampu menghasilkan keuntungan lebih nantinya.
Cara menaman benih langsung dibedengan adalah benih harus disemai (ditanam) dengan jarak tanam yang dianjurkan dan pada kedalaman yang sesuai. Jarak tanam benih yang tetap merupakan bagian dari budidaya yang baik dan sedikit kehati-hatian. Dalam kegiatan ini akan membantu dalam penyiangan dan kegiatan-kegiatan lain. Jumlah benih yang disebar dalam satu lubang akan tergantung dari daya tumbuh (viabilitas) benih dan pada spesies yang ditanam, untuk banyak spesies 2 benih per lubang adalah ideal.
Tempat persemaian benih hendaknya bisa mendapatkan sinar matahari tetapi tidak secara langsung dan juga hendaknya tidak terkena hujan secara langsung, maka tempat persemaian yang ideal harus diberi naungan. Namun dalam praktikum kali ini menggunakan perlakuan penyemaian benih dengan perlakuan dan tanpa perlakuan. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui efektivitas daya kecambah dan kecepatan berkecambah benih pada benih sayuran yang disemai.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.      Bagaimanakah teknik budidaya tanaman cabai?
2.      Apa saja kendala yang dihadapi dalam  melakukan teknik budidaya tanaman cabai?
3.      Unsur hara apa saja yang dibutuhkan dalam budidaya tanaman cabai?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah:
1.      Melakukan teknik budidaya tanaman cabai
2.      Mengetahui kendala yang dihadapi dalam melakukan penyemaian benih cabai
3.      Mengetahui unsur hara yang dibutuhkan dalam budidaya tanaman cabai

1.4 Manfaat
            Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu agar praktikan memperoleh pengetahuan tentang cara pembibitan pada tanaman hortikultura dan mempraktekkan secara langsung cara pembibitan yang baik dan benar.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Lombok atau Cabai
Lombok ialah jenis tanaman yang termasuk genus Capsicum, yang pada umumnya mempunyai rasa pedas. Lombok sering disebut juga cabai. Tetapi lain dengan cabai jawa (Piper retrofractum) yang termasuk genus Piper, family Piperaceae (Pracaya, 1993). Sedangkan klasifikasi cabai merah adalah sebagai berikut:
Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas               : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil
Sub Kelas        : Asteridae Ordo  : Solanales
Famili              : Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus              : Capsicum
Spesies            : Capsicum annum L.
Famili ini terdiri lebih kurang 75 marga (genus) dan 2000 jenis (spesies), ada yang berbentuk tanaman pendek, tanaman semak perdu atau pohon kecil. Daun Lombok termasuk daun tunggal sederhana, tetapi ada juga yang berlekuk dangkal sampai dalam, dan ada juga yang berlekuk majemuk. Letak daun bergantian dan tidak mempunyai daun penumpu. Tanaman ini banyak terdapat di daerah tropis sampai di daerah subtropik (Pracaya, 1993). Cabai memiliki akar tunggang, akar cabang, serta akar serabut yang berwarna keputih-putihan yang menyebar ke semua arah hingga kedalaman 30-40 cm. Buahnya  berbentuk kerucut memanjang, lurus atau bengkok, meruncing pada bagian ujungnya, menggantung, permukaan licin mengilap, diameter 1-2 cm, panjang 4-17 cm, bertangkai pendek, rasanya pedas. Buah muda berwarna hijau tua, setelah masak menjadi merah cerah (Arianto,  2010). 
Batang tanaman cabai memiliki struktur yang keras dan berkayu,  berwarna hijau gelap, berbentuk bulat, halus, dan bercabang banyak, sedangkan  batang  utama tumbuh tegak kuat. Percabangan terbentuk setelah batang tanaman mencapai ketinggian berkisar antara 30-45 cm. Cabang tanaman beruas-ruas; setiap ruas ditumbuhi daun dan tunas (cabang) (Cahyono, 2003). Tangkai putik warnanya putih, panjangnya sekitar 0,5 cm. warna kepala putik kuning-kehijauan. Sedangkan tangkai sarinya berwarna putih, tapi yang dekat dengan kepala sari ada bercak kecoklatan. Panjang tangkai sari ini, sekitar 0,5 cm juga, kepala sarinya, berwarna biru atau ungu. bentuk buahnya sendiri sebagaimana sudah diketahui, memanjang atau bulat dan biji buahnya berwarna kuning-kecoklatan (Setiadi, 1993).
2.2 Pembibitan Tanaman Cabai
Lombok mempunyai banyak varietas, antara lain Lombok besar, Lombok kecil, Lombok pendek, Lombok panjang; ada yang rasanya pedas sekali, sedang dan tidak begitu pedas, ada yang warnanya hijau, putih, putih – kekuningan, kuning, dan merah (Pracaya, 1993). Kebutuhan benih setiap hektar pertanaman adalah 150 - 300 gram dengan daya tumbuh lebih dari 90 %. Siapkan media semai dari tanah, pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1 yang dibuat bedengan setinggi ± 20 cm, lebar ± 1 m dan panjang 3-5 m serta diberi naungan dari jerami atau alang-alang/daun kelapa. Sebar benih secara merata atau ditebar dalam garikan dengan jarak antar garitan 5 cm dan ditutup tanah tipis-tipis lalu disiram. Pertahankan kelembaban tanah tetap baik agar biji cepat tumbuh (Arianto, 2010). Cara menyeleksi biji mudah saja. Calon benih dimasukkan ke dalam ember atau bak berisi air. kemudian air tersebut diaduk-aduk kemudian dilihat biji-biji tersebut. Kalau ada biji yang mengambang, berarti biji ini kurang baik, jadi harus disingkirkan. Dan biji-biji yang tenggelam itulah yang dijadikan benih dan bisa langsung disemai (Setiadi, 1993).
Benih dapat disemai langsung satu persatu dalam bumbung (koker) yang terbuat dari daun pisang ataupun polybag kecil ukuran 8 x 10 cm, tetapi dapat pula dikecambahkan terlebih dahulu. Sebelum dikecambahkan, benih cabai sebaiknya direndam dahulu dalam air dingin ataupun air hangat 55o-60o selama15-30 menit untuk mempercepat proses perkecambahan dan mensuci hamakan benih tersebut (Rukmana, 1994). Tanaman cabai rawit berkembang biak secara generatif, yakni melalui biji. Dalam budidaya cabai rawit, biji atau benih dapat langsung ditanam di kebun atau disemaikan terlebih dahulu. Namun, sebaiknya biji disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian. Penanaman biji cabai rawit di kebun secara langsung memiliki resiko tingkat kerusakan yang tinggi dan tanaman yang baru tumbuh kurang kuat terhadap pengaruh lingkungan atau cuaca yang ekstrem, sehingga banyak tanaman (bibit) yang mati. (Cahyono, 2003).
2.3 Penyiapan Lahan
Hampir semua jenis tanah cocok untuk budidaya tanaman pertanian, cocok pula untuk tanaman cabai. Untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas hasil yang tinggi, cabai menghendaki tanah yang subur, gembur, kaya akan bahan organik, dan tidak mudah becek (menggenang), bebas cacing (namatoda) dan penyakit tular tanah. Kisaran pH tanah yang ideal adalah antara 5,5-6,8, karena pada pH di bawah 5,5 atau di atas 6,8 hanya akan menghasilkan produksi yang sedikit (rendah) (Rukmana, 1994). Tanah setelah diolah lalu dibuat bedengan. Ukuran bedengan itu bermacam-macam ada yang lebar 90 cm, 100 cm, 125 cm, 150 cm atau 200 cm, jika akan diberi mulsa plastik hitam perak selebar 120 cm. Bedengan sebaiknya tidak dinjak-injak, karena bedengan kalau diinjak-injak akan jadi padat, selain itu plastik bisa sobek. Mengenai panjang bedengan, bisa sekitar 5-15 m, tergantung keadaan lahan. Bedengan terlalu panjang dapat mempersulit kalau akan merawat bedengan berikutnya, Sehingga harus meloncat atau menginjak bedengan. (Pracaya, 1993).
Lahan yang akan ditanami cabai harus dipersiapkan dengan baik sehingga tercipta kondisi lingkungan yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman. Penyiapan penanaman cabai meliputi : pembersihan lahan, pengolahan tanah, pembuatan bedengan dan parit-parit, pengapuran, pemupukan dasar, sterilisasi tanah, dan pemasangan mulsa plastik hitam perak (Cahyono, 2003). Pada lahan tegalan tanahnya perlu dibajak lebih dahulu, baru kemudian dicangkuli. Kalau tanah sudah gembur kemudian dibuat bedengan atau petakan. Selain ini, pada lahan tegalan perlu dibuatkan saluran air untuk pembuangan saluran air yang berlebih (Setiadi, 1993).
2.4 Penanaman Tanaman Cabai
Pada waktu pengambilan semai dari persemaian lapangan atau persemaian kotak memakai solet dengan cara menusukkan solet miring ke bawah akar tunggang sehingga tidak merusak perakaran. Kemudian solet diangkat ke atas sehingga semai akan terangkat ke atas. Pada waktu menanam semai ini diusahakan agar akar tunggang jangan sampai membengkok. Tempat yang akan ditanami semai dibuat lubang sedalam panjang akar tunggang. Setelah ditanam segera disiram dan diberi penutup gedebog lalu daun-daunan supaya tidak layu (Pracaya, 1993). Waktu tanam paling baik adalah pagi atau sore hari, dan bibit cabai berumur 17-23 hari atau berdaun 2-4 helai. Sehari sebelum tanam, bedengan yang telah ditutup MPHP harus dibuatkan lubang tanam dulu. Jarak tanam untuk cabai merah hibrida adalah 60 x 70 cm atau 70x70 cm, sedangkan cabai paprika 50x70 cm (Rukmana, 1994). Kalau pembenihan tempo hari dilakukan pada bulan-bulan sekitar Januari-Februari, setelah jadi bibit yang berusia 1-1,5 bulan dan siap tanam, maka pelaksanaan penanamannya akan jatuh pada bulan maret-april. Pada penanaman ini, sebagaimana dilakukan pada penanaman tanaman lain, keranjang atau plastik tempat pembibitan mesti dibuang dulu, lantas tanah berikut tanaman muda ditanam di lubang yang telah disiapkan sebelumnya (Setiadi, 1993).
Tanaman cabai juga dapat  ditanam pada musim penghujan, namun secara teknik tidak memberikan hasil yang tinggi. Pada musim penghujan, kerusakan tanaman akibat cuaca yang kurang mendukung dapat mencapai 40% atau lebih, kecuali penanaman dilakukan dengan menggunakan naungan atau dilakukan di dalam rumah kaca (green house) (Cahyono, 2003).
2.5 Pemeliharaan Tanaman Cabai
Pada fase awal pertumbuhan atau saat tanaman cabai masih menyesuaikan diri terhadap lingkungan kebun (adaptasi), penyiraman perlu dilakukan secara rutin tiap hari, terutama di musim kemarau. Setelah tanaman tumbuh kuat dan perakarannya dalam, pengairan berikutnya dilakukan dengan cara di genangi air (leb) setiap 3 – 4 hari sekali. Genangan ini airnya cukup sampai batas antara tanah bagian bawah dengan ujung MPHP. Setelah tanah bedengan basah, airnya segera dibuang kembali menuju saluran pembuangan. Tanah yang becek atau menggenang akan memudahkan tanaman diserang penyakit layu (Rukmana, 1994). Bila banyak gulma harus segera disiang agar tidak menjadi pesaing bagi tanaman lombok dalam memperoleh unsur  hara. Bila dalam jangka waktu yang lama gulma tidak segera disiang maka tanaman lombok akan menjadi kurus dan kerdil (Pracaya, 1993). Salah satu faktor penghambat peningkatan produksi cabai adalah adanya serangan hama dan penyakit yang fatal. Kehilangan hasil produksi cabai karena serangan penyakit busuk buah (Colletotrichum sp.) dan cendawan tepung (Oidium sp) berkisar antara 5 % - 30 % (Rukmana, 1993).
Pemangkasan tunas dan cabang pada tanaman cabai bertujuan untuk mengurangi pertumbuhan vegetatif (daun dan cabang) agar tanaman tidak terlalu rimbun, menghambat pertumbuhan tinggi tanaman untuk mempermudah pemeliharaan, menjaga kelembaban di sekitar tanaman tetap baik, sehingga mengurangi atau menekan pertumbuhan cendawan penyebab penyakit, meningkatkan pertumbuhan generatif (bunga dan buah), meningkatkan penerimaan cahaya matahari ke seluruh bagian tanaman, meningkatkan produksi buah, dan memperbesar batang utama (Cahyono, 2003). Cara memupuk secara umum sesudah tanaman cabai berumur 2 bulan di lapangan, biasanya dilakukan bersama-sama dengan melakukan penyiangan dan pembumbuan. Pupuk ini ditebarkan di sekeliling tanaman dengan jarak 510 cm (Setiadi, 1993).  
2.6 Hama dan Penyakit Cabai Selama Persemaian
1.      Rebah kecambah ( Dumping off ).
a)      Gejala :
1)      Tanaman mati karena batang busuk.
2)      Gejala dapat bermacam-macam tergantung dari umur dan stadia perkembangan semai jeruk.
3)      Benih menjadi busuk sebelum berkecambah atau sebelum muncul dipermukaan tanah.  
4)      Benih yang terinfeksi ini menyebabkan kualitas benih buruk (daya kecambah rendah).
5)      Busuk pangkal batang pada perkembangan semai benih terutama pada bagian yang dekat dengan tanah.
6)      Rhizoctonia solani menyebabkan pembusukan semai yang dekat dengan permukaan tanah bagian busuk berwarna coklat. Serangan Pythium sp. selalu dimulai dari ujung akar (akar pokok dan atau akar lateral). Serangan selalu dimulai dari bagian tanaman di dalam tanah. Pythium sp. menyebabkan tanaman menjadi layu dan kulit akar busuk basah. Disamping itu, daun atau tunas-tunas dapat terjangkit dengan gejala busuk coklat.
b)      Cara pengendalian :
1)      Tanaman yang terserang dibuang bersamaan dengan tanahnya.
2)     Mengatur kelembaban dengan mengurangi naungan dan penyiraman yang berlebihan.
3)      Jika serangan tinggi siram GLIO 1 sendok makan (± 10 gr) per 10 liter air.
4)      Sterillisasi biji benih dengan air panas 52oC selama 10 menit atau perendaman menggunakan Benomyl 2,5% selama 10 menit.
5)      Fumigasi dengan Methyl bromide, Metan sodium.
6)      Penyiraman menggunakan air yang tidak tercemar.
2.    Kresek Daun / Embun Bulu
a)    Gejala :
Pada tanaman yang terserang, akan tampak jamur berbulu halus (Plasmopara viticola), muncul sebagai bercak putih kuning pada permukaan atas daun yang lebih tua. Pada permukaan bawah, daun ditutupi dengan putih keabu-abuan, seperti kapas. Akan nampak jelas terlihat setelah hujan atau terkena air dan seperti hilang segera setelah cuaca panas. Jika penyakit terus berlangsung, daun berubah coklat dan renyah, kemudian rontok (meskipun tanaman memiliki cukup air).
b)   Cara pengendalian :
Cara terbaik untuk mencegah penyakit bulai atau embun bulu adalah dengan menghindari kondisi lingkungan yang mendukung tumbuh suburnya penyakit tersebut. Karena sifat cendawan umumnya menyukai kondisi lembab, maka usaha yang logis untuk menekannya adalah dengan menciptakan lingkungan yang tidak lembap di lahan kita sebisa mungkin, di samping melakukan terapi melalui produk fungisida.
1)   Bagian-bagian tanaman yang terlalu rimbun dipangkas, rumput/gulma di lahan dibuang. Tujuannya adalah untuk meningkatkan sirkulasi udara sehingga lahan tidak terlalu lembab.
2)   Penyiraman dilakukan di pagi hari sehingga bisa cepat mengering di siang hari. Penyiram pada waktu sore atau malam hari akan menciptakan lingkungan yang basah dan lembab. Penyiraman sebaiknya secukupnya saja (kapasitas lapang), tidak sampai berlebihan.
3)  Penyemprotan sebaiknya tidak dilakukan di malam hari akan menciptakan lingkungan yang lembab dan daun basah sepanjang malam.
4)  Daun atau bagian tanaman bagian bawah tidak menyentuh tanah sehingga tidak mudah terinfeksi.
5)   Jika memungkinkan tanaman yang terinfeksi serius dibuang dan dibakar, untuk mencegah penularan.
6)   Membuka pintu dan ventilasi, ketika kondisi  memungkinkan sehingga mendorong pergerakan udara.
7)   Untuk menghindari infeksi dari spora yang dorman di dalam tanah, dapat dilakukan dengan cara rotasi tanaman.
8)   menggunakan benih atau varietas unggul dan bersertifikat yang lebih tahan hama dan penyakit.

2.      Kelompok Virus
a) Gejala :
Pertumbuhan bibit terhambat dan warna daun pucat. Gejala yang lebih jelas setelah tanaman berumur lebih dari 2 minggu.
b)   Cara pengendalian
Bibit yang terserang dicabut dan dibakar, semprot vektor virus dengan BVR atau PESTONA.
3.      Thrips (Trips parvispinus)
a)    Gejala
Hama trips menghisap cairan permukaan bawah daun dan bunga. Tanaman cabai yang diserang trips ditandai oleh adanya bercak-bercak putih dan daun menjadi kriput. Pada serangan berat, daun pucuk dan tunas menggulung ke dalam, timbul benjolan seperti tumor, pertumbuhan tanaman terhambat kerdil dan bahkan pucuk mati. Hama trips dapat juga bertindak sebagai vektor penyakit virus mosaik dan virus keriting.
b)   Cara Pengendalian :
1)   Pengendalian dengan cara Kultur Teknis
a.    Penggunaan mulsa plastik yang dikombinasikan dengan tanaman perangkap caisin dapat menunda serangan yang biasanya terjadi pada umur 14 hari setelah tanam menjadi 41 hari setelah tanam.
b.    Membakar sisa jerami/mulsa yang dipakai setelah pertanaman.
c.    Sanitasi dan pemusnahan bagian tanaman yang diserang.
2)   Pengendalian Fisik Mekanis
a.    Persemaian cabai dikurung dengan menggunakan kain kasa untuk menekan serangan hama trips.
b.    Penggunaan perangkap Likat warna biru, putih atau kuning, sebanyak 40 buah perhektar atau 2 buah per 500m2 dipasang ditengah pertanaman sejak berumur 2 minggu. Setiap minggu perangkap diolesi oleh oli atau perekat. Perangkap likat dipasang dengan  ketinggian lebih kurang 50 cm (sedikit diatas tajuk tanaman).
3)   Pengendalian secara Hayati
Pemanfaatan musuh alami (predator) kumbang Coccinellidae coccinella repanda, Amblysius cucumeris, Oryus minutes, Arachnidea, dan patogen Entomophtora sp.
4)   Pengendalian secara kimiawi
Jika dengan cara lain tidak dapat menekan populasi hama Trips, pengendalian dapat menggunakan pestisida yang efektif, terdaftar, dan diizinkan oleh mentri Pertanian, misal bahan aktif imidakloprid Dagger 200L, Deltametrin Decis 2,5 EC, dsb.
4.      Kutu Daun Persik (Myzus persicae Suiz)
a)    Gejala :
1)         Kutu daun persik umumnya berwarna kuning kehijauan dan hidup bergerombol di belakang daun dekat tulang-tulang daun.
2)        Kutu ini mengisap cairan daun secara langsung, sehingga daun mengeriput, pertumbuhan jaringan daun terhambat kemudian layu dan mati.
3)        Kutu ini merupakan serangga vektor bagi berkembangnya penyakit virus seperti Potato Leaf Roll Virus dan Potato Virus Y pada tanaman cabai sehingga tanaman menjadi kerdil dan gagal membentuk buah.
4)        Serangan berat dari kutu dapat menyebabkan gagal panen.
5)        Hama cabai ini berkembang pada musim kemarau.

b)   Cara pengendalian  :
1)        Pengendalian dengan cara menanam tanaman perangkap (trap crop) di sekeliling kebun cabai seperti jagung.
2)        Pengendalian dengan kimia seperti Curacron 500 EC, Pegasus 500 SC, Decis 2,5 EC, Hostation 40 EC, Orthene 75 SP.
3)        Cara mekanik yaitu dengan memijit dengan menggunakan jari ke koloni kutu yang ditemukan.

5.      Tungau (Polyphagotarsonemus latus Bank dan Tetranyhus innabarinus Boisd)
a)    Gejala :
Gejala serangan tungau ini adalah adanya warna cokelat mengkilap di bagian bawah daun. Pada daun bagian atasnya ada dijumpai bercak kuning. Hama ini menyerang daun yang mengakibatkan daun menjadi kaku dan melengkung ke bawah. Pucuk daun seperti terbakar, tepi daun keriting. Kutu ini juga menyerang bunga, pentil dan buah. Tungau berukuran sangat kecil dan bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Serangan yang berat terutama pada musim kemarau, menyebabkan cabai tumbuh tidak normal dan daun-daunnya keriting.


b)   Cara pengendalian :
1)        Pengendalian dapat dilakukan dengan insektisida seperti Omite 57 EC, Apollo 500 SC, Mitisun 570 EC, Merothion 500 EC, Sterk 150 EC, Mitac 200 EC, Curacron 500 EC, Agrimec 18 EC, Pegasus 500 EC.



BAB III
METODE KERJA

3.1 Alat
            Adapun alat yang digunakan pada ppenyemaian cabai yaitu pisau, gelas, kapas, tisu, botol bekas, penggaris, alat tulis seperti pena dan buku, alat dokumentasi berupa  camera handphone dan alat lain yang dapat menunjang proses praktikum.

3.2 Bahan
            Bahan yang dibutuhkan dalam proses penyemaian cabai ini anatara lain, biji cabai, media tanam seperti tanah, air hangat, air biasa, dan pupuk kandang.

3.3 Cara Kerja
Sebelum melakukan penyemaian siapkan buah cabai yang akan digunakan. Dengan jenis cabai yang seegar dan tua serta tidak terserang hama penyakit. Kemudian menyayat setiap cabai dengan hati-hati agar tidak merusak biji tersebut. Setelah itu, rendam benih dalam air bersih dan mengambil benih yang tenggelam saja. Apabila benihnya terapung makan pertumbuhannya akan kurang baik. Selanjutnya benih cabai dijemur pada tempat yang tidak terkena sianar matahari secara langsung. Setelah benih cabai benar-benar kering maka benih tersebut dapat digunkan untuk proses penyemaian.
1.      Menyiapkan media semai dan alat bahan yang akan digunakan.
2.      Media yang akan digunakan yaitu tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1 perbandingan bahan disesuaikan dengan jenis tanah yang digunakan
3.      Kemudian cara penyemaian biji cabai dilakukan proses perkecambahan terlebih dahulu.
4.      Persyaratan benih dan kriteria-kriteria teknis untuk seleksi benih tanaman cabai adalah :
1)      Pilih biji yang utuh, tidak cacat atau luka, karena biji yang cacat biasanya sulit tumbuh.
2)      Pilih biji yang sehat, artinya biji tidak menunjukkan adanya serangan hama atau penyakit.
3)      Benih atau biji bersih dari kotoran.
4)      Pilih benih atau biji yang tidak keriput.
5.      Setelah itu biji cabai direndam dalam air hangat selama kurang lebih 5 jam untuk merangsang pertumbuhan akar lembaga
6.      Kemudian meletakkan biji cabai dalam tisu atau kapas yang sudah di basahi dengan air dan disimpan pada tempat yang hangat sehingga kurang lebih 24-36 jam berikutnya keluar calon akar lembaga lalu masukan kedalam polybag yang telah dipersiapkan sebelumnya
7.      Pengamatannya dilakukan pada tanaman yang diberi naungan dan tanpa naungan. Pada tanaman yang diberi naungan sungkup plastic diberikan lubang agar ada udara yang masuk. Pengamatan dilakukan selama 15 hari
8.      Selama proses penanaman bibit cabai ini dilakukan perawatan setiap harinya agar tanaman tersebut tumbuh.
9.      Perawatannya yaitu, dilakukan penyiraman tanaman cabai sebaiknya disiram sekurang-kurangnya 3 hari sekali apabila pada musim kemarau tanaman disiram setiap hari. Setelah tanaman cabai tumbuh dengan baik maka lebih baiknya diberi penyokong berupa bambu yang digunakan untuk menopang tanaman agar berdiri tegak.
10.  Disetiap harinya dilakukan pengamatan didokumentasi, kemudian mengukur tanaman tersebut menggunakan penggaris dilihat berapa tinggi batang, jumlah daun, lebar daun, dan panjang daun tanaman tomat tersebut.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.1  Hasil
Adapun hasil dari percobaan yang telah dilakukan yaitu, sebagai berikut :
4.1.1 Tabel Hasil Pengamatan Perkecambahan
·         Naungan
Komoditas
Populasi
Hari ke-
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Cabai
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
8
8

·         Tanpa Naungan
Komoditas
Populasi
Hari ke-
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Cabai
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
7
7
7
7






4.1.2 Tabel Hasil Pengukuran Tinggi Batang Tanaman Semai
·         Naungan
Benih ke-
Hari ke- (mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
1
0
0
0
0
0
0
1
1
1
2
2
2
3
6
2
0
0
0
0
1
2
3
3
3
3
4
6
6
7
3
0
0
0
0
0
0
0
0
0
2
3
5
5
5
4
0
0
0
0
0
0
0
0
1
2
2
3
5
7
5
0
0
0
0
1
2
4
5
5
5
6
6
7
7
6
0
0
0
0
0
0
1
2
4
4
5
5
5
7
7
0
0
0
0
1
1
3
3
4
5
5
6
7
8
8
0
0
0
0
0
1
1
1
2
3
3
3
5
5
9
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
10
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

·         Tanpa Naungan
Benih ke-
Hari ke- (mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
1
0
0
0
0
0
0
1
1
1
2
2
2
4
4
2
0
0
0
0
0
0
0
0
1
3
5
6
6
7
3
0
0
0
0
0
0
1
2
2
3
3
5
5
5
4
0
0
0
0
1
1
1
2
2
3
3
3
5
7
5
0
0
0
0
1
2
4
5
5
5
6
6
7
7
6
0
0
0
0
0
0
1
2
4
4
5
5
5
5
7
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
8
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
9
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
10
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

4.1.3 Tabel Pengukuran Jumlah Daun Tanaman Semai
·         Naungan
Benih ke-
Hari ke-(mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
1
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
2
2
2
2
0
0
0
0
1
1
1
1
1
1
2
2
2
2
3
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
4
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
2
2
2
2
5
0
0
0
0
1
1
1
2
2
2
2
2
2
2
6
0
0
0
0
0
0
2
2
2
2
2
2
2
2
7
0
0
0
0
1
1
1
1
2
2
2
2
2
2
8
0
0
0
0
0
2
2
2
2
2
2
2
2
2
9
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
10
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

·         Tanpa Naungan
Benih ke-
Hari ke-(mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
1
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
2
2
2
2
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
3
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
4
0
0
0
0
1
1
1
1
1
1
2
2
2
2
5
0
0
0
0
0
0
0
1
2
2
2
2
2
2
6
0
0
0
0
0
0
0
2
2
2
2
2
2
2
7
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
8
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
9
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
10
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

4.1.4 Tabel Pengukuran Lebar Daun DaunTanaman Semai
·         Naungan
Benih ke-
Hari ke- (mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
1
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
2
2
0
0
0
0
1
1
1
1
1
2
2
2
2
2
3
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
4
0
9
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
2
2
5
0
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
6
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
1
2
2
7
0
0
0
0
1
1
1
1
2
3
3
3
3
4
8
0
0
0
0
0
1
1
1
1
2
2
2
2
2
9
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
10
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0





·         Tanpa Naungan
Benih ke-
Hari ke-(mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
1
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
2
2
2
2
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
3
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
2
2
2
2
4
0
0
0
0
1
1
1
1
1
1
2
2
2
2
5
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
2
2
2
6
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
2
2
2
7
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
8
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
9
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
10
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

4.1.5 Tabel Pengukuran Panjang Daun
·         Naungan
Benih ke-
Hari ke- (mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
1
0
0
0
0
0
0
3
3
3
3
3
5
5
7
2
0
0
0
0
3
3
3
3
3
4
4
4
5
5
3
0
0
0
0
0
0
0
0
0
2
2
2
2
2
4
0
0
0
0
0
0
0
0
2
2
2
2
2
3
5
0
0
0
0
2
3
3
4
5
6
6
6
6
6
6
0
0
0
0
0
0
3
3
3
3
3
3
4
4
7
0
0
0
0
2
5
5
6
6
6
6
6
7
7
8
0
0
0
0
0
2
2
2
2
2
2
3
3
3
9
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
10
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

·         Tanpa naungan
Benih ke-
Hari ke-(mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
1
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
2
2
2
2
0
0
0
0
0
0
0
0
0
2
2
2
2
2
3
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
2
2
2
2
4
0
0
0
0
1
1
1
1
1
1
2
2
2
2
5
0
0
0
0
0
0
0