KENDALA YANG DIHADAPI DALAM BUDIDAYA TANAMAN KENTANG DAN SOLUSINYA (TUGAS HORTIKULTURA)

KENDALA YANG DIHADAPI DALAM BUDIDAYA TANAMAN KENTANG DAN SOLUSINYA
(Untuk memenuhi tugas mata kuliah Hortikultura)

PEMBAHASAN
  1. Pengertian 
Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan tanaman sayuran semusim, berumur 90-180 hari, dan termasuk tipe tanaman semak. Kentang menyukai tanah yang diolah baik dan gembur. Kentang lebih cocok ditanam pada daerah dataran tinggi atau pegunungan dengan ketinggian lebih dari 700 mdpl.
Tanaman kentang termasuk komoditas hortikultura yang memegang peran penting dalam perekonomian di indonesia. Selain menunjang program diversifikasi pangan, umbi tanaman kentang juga menjadi bahan pangan alternatif pengganti beras karena mempunyai kandungan karbohidrat, protein dan lemak serta vitamin C yang cukup tinggi.

  1. Kendala dan solusi 
  1. Perubahan iklim
Perubahan iklim menimbulkan berbagai dampak, antara lain curah hujan tinggi, kekeringan maupun suhu tinggi di beberapa wilayah yang sulit diprediksi . Kekeringan merupakan salah satu ancaman serius dalam produksi tanaman termasuk kentang. Kondisi kekeringan akan berpengaruh pada semua fase pertumbuhan tanaman. Tanaman kentang termasuk tanaman yang sangat sensitif terhadap kekeringan. Respon tanaman kentang terhadap kekeringan berbeda-beda, tergantung intensitas kekeringan dan genotipe yang ditanam yang juga berkaitan dengan respon morfologi, fisiologi, dan seluler/molekuler. Secara morfologi, semua genotipe yang diberi perlakukan kekeringan memperlihatkan gejala kekurangan air. Gejala tersebut antara lain tanaman layu, ukuran daun kecil, tipe tumbuh menjadi lebih tegak, daun menggulung dan menguning, serta tanaman mengering. Masing-masing genotipe memperlihatkan gejala yang berbeda.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan pada tanaman kentang, Balai Penelitian Tanaman Sayuran telah berusaha mengintroduksi materi genetik yang teridentifikasi tahan/toleran terhadap kekeringan. Perbaikan karakter agronomi untuk genotipe yang tahan kekeringan dilakukan sejak tahun 2014 dengan melakukan persilangan. Pada tahun 2015, populasi segregasi hasil hibiridisasi dalam bentuk true potato seeds (TPS) diuji dengan tekanan seleksi pada cekaman air. Seleksi progeni tersebut menghasilkan 60 genotipe yang toleran terhadap cekaman kekeringan. Ke-enam puluh genotipe tersebut selanjutnya bersama dengan 18 klon lainnya diseleksi kembali pada tahun 2016.
  1. Gangguan penyakit hawar daun
Salah satu kendala utama dalam budidaya kentang adalah gangguan penyakit hawar daun/ late blight oleh patogen jamur Phytophthora infestans disamping keterbatasan benih yang berkualitas. Kehilangan  hasil akibat penyakit hawar daun tersebut dapat mencapai 100%. Pengendalian penyakit hawar daun tanaman kentang dengan induksi ketahanan tanaman melalui aplikasi Trichoderma spp. merupakan bagian dari pengendalian hayati karena memanfaatkan mikroorganisme non patogenik sebagai penginduksi ketahanan tanaman tersebut. Akibat adanya ketahanan terimbas oleh aplikasi agensia hayati, terjadilah pengurangan gejala penyakit dan perubahan faktor-faktor biokimiawi di dalam tanaman inang, yang menyebabkan tanaman tahan terhadap serangan patogen penyebab penyakit. Selain itu, peningkatan ketahanan tanaman kentang oleh aplikasi jamur antagonis menyebabkan peningkatan kadar hormon auksin, giberelin atau sitokinin serta peningkatan pertumbuhan dan hasil panen tanaman kentang. 
Berdasarkan hasil analisis uji statistik, aplikasi biofungsida tricho powder Dan pupuk organik bokhasi memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan (jumlah daun) dan hasil produksi panen tanaman kentang ( jumlah umbi).  Pertumbuhan tanaman kentang sangat di pengaruhi oleh asupan hara tanah baik yang bersifat penambahan dalam bentuk pupuk organik atau pupuk kimia sintetik, maupun pupuk alami yang tersedia di dalam tanah. Penelitian ini menunjukan bahwa pemberian pupuk sintetik dan pupuk organik memberikan dampak yang cukup signifikan pada pertumbuhan tanaman kentang. Selain itu, pemupukan juga menghasilkan hasil panen yang lebih banyak di banding dengan tanpa pemupukan.
  1. Pembubuhan yang tidak ideal
Permasalahan yang sering dihadapi dalam produksi kentang nasional adalah hasil yang berfluktuasi. Salah satu penyebabnya terjadi saat kegiatan budidaya dilaksanakan yaitu perlakuan. Pembubuhan sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan didapatkan. Keadaan bumbuhan yang baik dan ideal sangat diharapkan yaitu bumbuhan yang tidak terlalu pendek ataupun terlalu tinggi. Bumbuhan yang terlalu pendek akan membuat umbi muncul ke permukaan dan terkena sinar matahari sehingga umbi berwarna hijau, sedangkan bumbunan yang terlalu tinggi akan menyebabkan umbi lebih mudah terserang penyakit.
Alternatif menangani masalah ini adalah dengan melakukan pembumbunan dengan ketinggian yang ideal sejak awal penanaman. Pembumbunan dengan ketinggian yang ideal sejak awal penanaman diharapkan dapat mengurangi permasalahan yang terjadi dari pembumbunan yang tidak sesuai. Tujuan akhir dari pembumbunan ideal ini adalah mendapatkan produksi kentang yang tinggi.
  1. Penggunaan bibit kurang bermutu
Tanaman kentang (Solanum tuberosum) termasuk tanaman sayuran yang berumur pendek. Saat ini produktivitas kentang masih rendah, sehingga masih dibutuhkan tindakan untuk meningkatkan produktivitas. Rendahnya produktivitas disebabkan antara lain, penggunaan bibit kurang bermutu, pengelolaan budidaya yang belum optimal serta penanganan pascapanen yang belum memadai. Salah satu tindakan yang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas ialah penanganan pemupukan dan teknik penanaman yang tepat. Pemupukan merupakan salah satu usaha penting untuk meningkatkan produksi, bahkan sampai sekarang dianggap sebagai faktor yang dominan dalam produksi pertanian. Melalui pemupukan yang tepat, maka diperoleh keseimbangan unsur hara enssensial yang dibutuhkan tanaman.
Peningkatan efisiensi pemupukan dapat dilakukan dengan pemberian bahan organik. Salah satu sumber bahan organik yang banyak tersedia di sekitar petani ialah pupuk kandang. Pemberian pupuk organik dapat mengurangi dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia), menyumbangkan unsur hara bagi tanaman serta meningkatkan serapan unsur hara oleh tanaman. Penggunaan pupuk organik alam yang dapat dipergunakan untuk membantu mengatasi kendala produksi pertanian yaitu pupuk organik cair. Pupuk organik cair merupakan salah satu jenis pupuk yang banyak beredar di pasaran. Pupuk organik cair kebanyakan diaplikasikan melalui daun atau disebut sebagai pupuk cair daun yang mengandung hara makro dan mikro esensial. Pupuk organik cair mempunyai beberapa manfaat di antaranya dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun dan pembentukan bintil akar pada tanaman leguminosae, sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis tanaman dan penyerapan nitrogen dari udara, dapat meningkatkan vigor tanaman, sehingga tanaman menjadi kokoh dan kuat, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, cekaman cuaca, dan serangan patogen penyebab penyakit, merangsang pertumbuhan cabang produksi, serta meningkatkan pembentukan bunga dan bakal buah, serta mengurangi gugurnya daun, bunga, dan bakal buah Pupuk organik cair diolah dari bahan baku berupa kotoran ternak, kompos, limbah alam, hormon tumbuhan, dan bahan-bahan alami lainnya yang diproses secara alamiah selama 2 bulan. Dengan pemberian pupuk organik cair melalui daun, maka kebutuhan unsur hara tanaman semakin terpenuhi, sehingga tanaman akan semakin sehat dan lebih kuat terhadap serangan penyakit.


  1. Predator hama pada tanaman kentang 
Penurunan produktivitas dapat tejadi sebagai akibat gangguan hama penyakit hingga 40% bahkan bisa gagal panen, sehingga untuk mengatasinya petani melakukan pengendalian dengan menggunakan pestisida sintetik. Permasalahan yang muncul sebagai akibat penggunaan pestisida sintetik yang tidak ramah lingkungan akan mengakibatkan terbunuhnya musuh alami, terjadinya resurjensi, ledakan hama sekunder, timbulnya strain hama yang resisten, pencemaran lingkungan dan residu pestisida pada hasil pertanian. Pengendalian yang lebih ramah lingkungan, efektif, dan efisien untuk dilakukan secara berkelanjutan secara berkelanjutan berdasarkan konsep PHT (Pengelola Hama Terpadu) lebih tepat untuk untuk di terapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Handayani, tri, dkk. 2018. Respon dan Seleksi Tanaman Kentang Terhadap Kekeringan. Jurnal hortikultura. 28(2).
Marpaung, dkk. 2014. Pemanfaatan Pupuk Organik Cair dan Teknik Penanaman Dalam Peningkatan Pertumbuhan dan hasil kentang. Jurnal Hortikultura. 24(1) : 49-55.
Purwantisari, Susiana, dkk. 2018. Peningkatan Pertumbuhan dan Hasil Panen Kentang Oleh Aplikasi Biofungsida Trico Powder Produk Lokal Temanggung. Jurnal Akademika Biologi. 7(4): 28-31.
Utami, Gina rahma, dkk. 2015. Penanganan Budidaya Kentang (Solanum Tuberosum L.) di Bandung, Jawa Barat . Jurnal Agrohorti. 3(1): 105-109.

Widyaningsih,maya, dkk. 2014. Keanekaragaman Predator Hama  Pada Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.) di Bromo. Jurnal ilmiah pertanian. 1(1).


Untuk Mendapatkan Update Berita TERBARU
Follow Kami Juga Di :

Facebook Klik : UPDATE INFO
Instagram Klik : UPDATE INFOO
Telegram Klik : UPDATE INFOO OFFICIAL
Twitter Klik : UPDATE INFOO

Budayakan Membaca Agar Kenali Fakta
Terima Kasih

0 Response to "KENDALA YANG DIHADAPI DALAM BUDIDAYA TANAMAN KENTANG DAN SOLUSINYA (TUGAS HORTIKULTURA)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel