Menebak Masa Depan Jenderal Andika Perkasa

Updateinfoo.com -  Kursi Panglima TNI selalu menarik perhatian. Sekalipun, masa pensiun Marsekal Hadi Tjahjanto masih dua tahun lagi. Namun jabatan pucuk pimpinan TNI mutlak berada di tangan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Unpad, Muradi memiliki prediksi perihal jabatan orang nomor satu di TNI. Dia melihat, dari perspektif kepentingan politik Pemilu 2024.

Setidaknya, dalam catatan Muradi ada empat hal penting yang perlu dipertimbangkan Jokowi untuk menunjuk Panglima TNI setelah Hadi Tjahjanto.

Pertama tentang kebutuhan TNI di masa mendatang, setidaknya sampai Jokowi lengser pada 2024. Kedua, perihal keinginan Jokowi untuk mengubah TNI seperti apa sesuai kebutuhan pemerintah.

Ketiga ketersediaan sumber daya manusia dari tiga Matra, yang ke empat itu soal strategi pertahanan mau seperti apa.

"Dari empat ini dilihat dari ketersediaan SDM dulu, 2024 kita mau ngapain sih? Di atas 3 tahun ini, itu ada rencana katakan ingin 2024 pesta demokrasi kita lancar enggak ada gangguan, maka saya merujuk akan baik kalau nanti panglima antara 2023 sampai 2024 itu panglima dari angkatan darat," jelas Muradi saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (24/6).

Muradi menjelaskan, angkatan darat sangat dibutuhkan untuk menjaga kontestasi pemilu dan peralihan rezim berjalan dengan mulus. Dia merujuk pada Pemilu 2019, kondisi di internal TNI tidak bagus saat itu, kata Muradi.

Hal ini dapat dilihat dari isu yang dimainkan pada Pemilu 2019. Satu contoh PKI, Muradi yakin, isu ini tidak mungkin bisa dimainkan apabila Panglima TNI dari angkatan darat. Sementara pada pemilu lalu, pucuk pimpinan tentara dipimpin oleh angkatan udara.

Tapi, Muradi menjelaskan lebih dalam, apabila Jokowi melihat dari perspektif kebutuhan internal TNI, sesuai dengan Undang-Undang nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, posisi panglima dijabat bergiliran oleh setiap matra.

Namun ada persoalan menurut Muradi, bagaimana dengan ketersediaan sumber daya manusia. Dia menyarankan Jokowi memilih jabatan panglima TNI periode 2020 hingga 2022 bukan diisi oleh angkatan darat.

"Kenapa? Karena kebutuhan pertama soal bergiliran, kedua soal situasi internal, kita enggak ada agenda politik krusial hingga 2024, belum ada, jadi alangkah baiknya kalau dipimpin bukan angkatan darat, angkatan darat setelah 2022 sampai mengawal pesta demokrasi 2024," ujar Muradi.

Sementara itu, Anggota Komisi I DPR Bobby Adityo Rizaldi menilai, lebih baik jabatan Panglima TNI tetap dipegang oleh Hadi Tjahjanto. Selama ini, menurut dia, TNI di bawah komando Hadi baik-baik saja.

Misalnya, tidak adanya okupasi militer di teritorial Indonesia. Kemudian, kerjasama pertahanan regional dan global yang baik, pembangunan postur pertahanan yang hampir memenuhi tahapan Minimum Essential Force.

"Hubungan dengan stakeholder seperti Kementerian Pertahanan juga tidak ada catatan negatif. Jadi secara umum kinerjanya kami anggap baik. Polri termasuk stakeholder dan dalam penanganan Covid cukup berhasil,” kata Politikus Golkar tersebut.

Nasib Jenderal Andika Perkasa

Muradi menilai, terlalu riskan menunjuk Kasad Jenderal Andika Perkasa dalam waktu dekat ini. Sebab, seperti perhitungan Muradi, jabatan Andika hanya sampai 2022, sehingga nantinya pada Pemilu 2024, jabatan Panglima TNI tidak dijabat oleh angkatan darat, hal ini yang prediksi Muradi amat riskan.

Oleh sebab itu, dia menyarankan Jokowi tidak menunjuk Panglima TNI setelah Hadi Tjahjanto dari unsur Angkatan Darat. Menurutnya, setelah Hadi, lebih baik ditunjuk panglima TNI dari angkatan laut.

"Katakanlah Andhika sampai 2022 (jabat Panglima TNI), agak berisiko, kalau dipaksakan. Ya mungkin masih 3 tahun lagi oke lah, dia akan pensiun misalnya di 2022 sebagai Kasad. Saya berharap beliau tidak memaksa kehendak untuk maju sebagai panglima. Karena kalau maju alurnya akan berbeda, kecuali di 2024 tidak akan terjadi apa-apa," katanya.

"Jadi pilih opsi panglima penggantinya (Hadi Tjahjanto) angkatan laut, nanti tahun 2022 akhir atau 2023 awal itu panglima angkatan darat," tambah Muradi.

Opsi lainnya, Muradi mengatakan, Jokowi percayakan jabatan Panglima TNI kepada Hadi Tjahjanto sampai masa pensiun yakni November 2022. Dengan begitu, jabatan selanjutnya akan digantikan oleh panglima dari angkatan darat.

Tapi, jelas Muradi, setelah tahun 2022, Andika juga terganjal masa pensiun. Sehingga hanya menjabat satu tahun setengah. Tidak bisa mengawal Pilpres 2024. Sehingga jabatan Panglima TNI juga harus berganti ke angkatan laut.

"Nanti kaya kasusnya Pak Hadi menjadi panglima di pilpres (2019)," ujar Muradi lagi.

Namun bagi Bobby Aditya Rizaldi, tidak ada tradisi yang mengharuskan posisi Panglima TNI digilir dari satu matra ke matra yang berikut. Penunjukkan orang nomor satu TNI dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan dinamika pertahanan nasional.

"Sebenarnya tidak ada tradisi, Panglima TNI ditugaskan sesuai kebutuhan dan dinamika pertahanan nasional terkini," jelas Bobby.

Dalam penilaian dia, Andika Perkasa memang merupakan kandidat potensial untuk menggantikan Hadi. Selain kapasitas pribadi, menantu Hendropriyono ini pun merupakan pimpinan atas unit organisasi militer dengan jumlah prajurit terbesar.

"Pak Andika sangat mumpuni dan pemimpin unit organisasi militer dengan jumlah prajurit terbanyak, tentu merupakan kandidat potensial untuk jabatan tersebut (Panglima TNI)," katanya.

Opsi untuk Andika Perkasa


Muradi mengakui, bisa saja Jokowi pada akhirnya menunjuk Andika menjadi Kasad nantinya. Namun opsi lain, Andika bisa sabar menunggu pensiun, meski tak dapat kursi Panglima TNI, tapi bisa menjadi calon presiden di Pemilu 2024.

"Maksud saya normal saja bekerja sebagai Kasad, pensiun normal, tinggal waktu 2021 atau 2022 awal untuk membangun citra. Kalau merusak di awal, sekarang gini kalau saya lebih ingin kepala staf daripada panglima, kalau staf langsung pegang personel ya kan? kalau saya ya," kata Ketua Prodi Pasca Sarjana Ilmu Politik Unpad.

Atau opsi lain, Jokowi bisa saja nantinya menunjuk Andika Perkasa menjadi wakil panglima TNI. Meskipun hingga kini, jabatan tersebut belum ditentukan oleh Jokowi.

Belajar dari Gatot Nurmantyo


Dia tak ingin nasib Andika seperti pendahulunya Gatot Nurmantyo. Muradi menyebut, Gatot gagal jadi Capres karena terlalu grasa grusu di awal.

“Contoh pak Gatot Nurmantyo, grasa grusu habis dia. Karena politik kita nggak lazim, karena politik kita nggak bisa terima orang show off, pak Andhika bagus ya, punya fisik bagus, pintar juga, punya power tapi dalam politik harus pintar mengayun kan, kapan keluar, tinggal beliau mau di mana, apakah dalam posisi sifatnya semua diambil jadi panglima lalu jadi capres, saya menduga dia itu akan habis energi di situ,” terang Muradi.

Oleh sebab itu, dia menyarankan agar Andika Perkasa lebih menahan diri. Dengan demikian, peluang untuk menjadi calon presiden pada 2024 menjadi terbuka lebar.

"Jadi jangan khawatir harus jadi panglima, pak Harto jadi presiden dulu baru jadi panglima," tutup Muradi.

Sumber: merdeka.com

Untuk Mendapatkan Update Berita TERBARU
Follow Kami Juga Di :

Facebook Klik : UPDATE INFO
Instagram Klik : UPDATE INFOO
Telegram Klik : UPDATE INFOO OFFICIAL
Twitter Klik : UPDATE INFOO

Budayakan Membaca Agar Kenali Fakta
Terima Kasih

0 Response to "Menebak Masa Depan Jenderal Andika Perkasa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel