Korut Putus Komunikasi Militer-Politik dengan Korsel

A North Korean soldier looks at the south side as another takes photographs while two South Korean soldiers stand guard during a visit by US Secretary of State Rex Tillerson at the border village of Panmunjom, which has separated the two Koreas since the Korean War, on March 17, 2017.
Washington's top diplomat visited the Demilitarised Zone dividing the two Koreas to gaze on the North for himself on March 17, a day after he declared 20 years of efforts to denuclearise it had failed.  / AFP PHOTO / POOL / Lee Jin-man 

UpdateInfoo.com -  Pemerintah Korea Utara memutus hubungan komunikasi militer dan politik dengan Korea Selatan.

Hal itu dilakukan setelah Pyongyang memprotes aktivis konservatif Korsel yang terus menyebarkan selebaran anti-Korea Utara di wilayah perbatasan. Korut meminta Korsel bertindak untuk menghentikan kegiatan para aktivis yang sebagian besar merupakan pembelot asal negara terisolasi itu.

"Pyongyang akan benar-benar memutuskan dan menutup jalur penghubung antara pihak berwenang Korut-Korsel, yang selama ini dipertahankan melalui kantor penghubung bersama Korut-Korsel," bunyi laporan kantor berita pemerintah Korut, KCNA, pada Selasa (9/6).

Dilansir AFP, Korut mengatakan pemutusan jalur itu akan berlaku mulai hari ini mulai pukul 12.00 waktu setempat.

KCNA melaporkan jalur komunikasi yang terputus itu termasuk jalur komunikasi Laut Timur dan Laut Barat antara kedua angkatan bersenjata, jalur komunikasi percobaan antar-Korea, dan sambungan langsung (hotline) antara Komite Sentral Partai Buruh Korut dan Istana Cheongwadae (Blue House) atau istana kepresidenan Korsel.

Korut sebelumnya mengancam akan membuat Korsel menderita. Pekan lalu, Pyongyang bahkan menyatakan akan membatalkan perjanjian militer dengan Seoul yang diteken pada 2018 lalu.

Ancaman itu diutarakan adik perempuan Kim Jong-un, Kim Yo Jong, yang selama ini diperkirakan menjadi kandidat kuat penerus sang kakak.

"Pihak berwenang Korea Selatan akan dipaksa membayar dengan mahal jika mereka membiarkan situasi ini berlanjut dengan berbagai alasan," kata Kim Yo-jong melalui sebuah pernyataan yang dirilis kantor berita pemerintah, KCNA, pada Kamis (4/6) pekan lalu.

Kim Yo-jong menyebut para aktivis anti-Pyongyang itu sebagai "sampah manusia" dan "anjing yang menyerupai sampah". Para aktivis itu sebagian merupakan mantan warga Korut yang membelot ke selatan.

Selain pakta militer, Korut juga mengancam akan menarik diri secara permanen dari proyek kerja sama dengan Korsel, termasuk Kawasan Industri Kaesong dan wisata Gunung Kumgang, jika Seoul tak kunjung menindak para aktivis tersebut.

Pakta perjanjian militer kedua negara diteken oleh Presiden Moon Jae-in dan Kim Jong-un pada 2018. Perjanjian itu disepakati demi meredakan ketegangan di perbatasan dan memulihkan hubungan antara Seoul-Pyongyang.

North Korean leader Kim Jong Un attends a welcoming ceremony upon arrival at the railway station in the far-eastern Russian port of Vladivostok on April 24, 2019. (Photo by Kirill KUDRYAVTSEV / AFP)
Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un (AFP Photo/Kirill Kudryavtsev)

Akan tetapi, sebagian besar isi perjanjian belum ditepati Pyongyang menyusul kegagalan pertemuan tingkat tinggi ketiga antara AS-Korut di Vietnam pada 2019 lalu yang disokong oleh Korsel.

Akibat pandemi virus corona (Covid-19), operasi kantor penghubung Korut-Korsel di perbatasan juga ditangguhkan sementara. (cni)

Untuk Mendapatkan Update Berita TERBARU
Follow Kami Juga Di :

Facebook Klik : UPDATE INFO
Instagram Klik : UPDATE INFOO
Telegram Klik : UPDATE INFOO OFFICIAL
Twitter Klik : UPDATE INFOO

Budayakan Membaca Agar Kenali Fakta
Terima Kasih

0 Response to "Korut Putus Komunikasi Militer-Politik dengan Korsel"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel