Jejak Demo Tolak Kekerasan Rasial Warga Kulit Hitam di AS

A police car burns after protesters marched to the Georgia State Capitol and returned to the area around the Centennial Olympic Park and CNN center where some confronted police Friday, May 29, 2020, in Atlanta. The protesters carried signs and chanted  messages of outrage over the death of George Floyd, a handcuffed back man who died Memorial Day in the custody of the Minneapolis police. (Alyssa Pointer/Atlanta Journal-Constitution via AP)

UpdateInfoo.com -   Demonstrasi dan gerakan menentang kekerasan serta diskriminasi bersifat rasial kembali meruak di Amerika Serikat selama tiga hari terakhir menyusul kematian sejumlah warga kulit hitam dalam beberapa waktu terakhir di Negeri Paman Sam.

Demonstrasi itu dipicu oleh kematian seorang warga kulit hitam asal Minneapolis, George Floyd. Floyd meninggal dunia akibat kehabisan napas setelah anggota polisi menekan lehernya dengan lutut dalam proses penangkapan.

Demonstrasi pertama kali pecah di Minneapolis, Minnesota, sehari setelah kematian Floyd pada Senin (25/5).

Sejak itu unjuk rasa serupa yang menuntut keadilan atas kematian Floyd juga bermunculan di Danver, New York, Oakland, hingga Ibu Kota Washington DC hingga sempat membuat Gedung Putih terkunci.

Kerusuhan pun tak terhindarkan selama aksi demonstrasi berlangsung mulai dari pembakaran sebuah kantor polisi di Minneapolis oleh pedemo, penangkapan pengunjuk rasa, hingga penembakan terhadap tujuh demonstran di Louisville, Kentucky.

Kematian Floyd bukan lah satu-satunya pemantik amarah warga AS yang sesungguhnya. Sebab, insiden Floyd terjadi tak lama setelah dua warga kulit hitam AS lainnya tewas.

Ahmaud Arbery (25) tewas pada 23 Februari lalu setelah ditembak oleh dua pria kulit putih ketika dirinya tengah lari pagi di lingkungan rumahnya di Brunswick, Georgia. 

Beberapa pekan setelah kematian Arbery, perempuan kulit hitam bernama Breonna Taylor tewas akibat tembakan aparat saat merazia gedung apartemennya pada Maret lalu.

Teknisi tim darurat medis itu tewas ditembak petugas polisi yang menerobos apartemennya ketika tengah tertidur lelap.

Berikut adalah rentetan demonstrasi besar yang pernah terjadi di Negeri Paman Sam akibat tersulut insiden berbau rasial dan diskriminasi.

Justice for Trayvon

Protes menuntut keadilan terhadap warga kulit hitam juga pernah terjadi menyusul kematian Martin Trayvon, remaja keturunan Afrika-Amerika berusia 17 tahun, pada 26 Februari 2012 lalu.

Trayvon tewas setelah ditembak oleh George Zimmerman. Insiden berlangsung ketika Trayvon sedang berjalan kaki menuju rumah saudaranya di Sanford, Florida, setelah berbelanja di minimarket terdekat.

Di tengah perjalanan, Zimmerman melihat dan mengikuti Trayvon yang ia anggap mencurigakan. Pria 28 tahun itu mengikuti sang remaja hingga keduanya terlibat kontak fisik. 

Zimmerman, yang saat itu membawa senjata, mengaku tak sengaja menembak Trayvon di dadanya ketika beradu fisik hingga menewaskan sang remaja.

Meski sempat diperiksa, kepolisian saat itu tidak menahan Zimmerman. Berita kematian Trayvon pun tersebar dan menuai perhatian publik.

Dilansir Guadian, ribuan orang turun ke jalan Sanford menuntut penangkapan Zimmerman. Para pedemo kompak memakai hoodie berwarna abu layaknya pakaian terakhir yang dikenakan Trayvon saat tertembak.

Demo yang dikenal dengan "Justice for Trayvon" itu bahkan meluas di media sosial. Sebanyak 2,2 juta tandatangan terkumpul dalam petisi daring yang dibuat ibunda Trayvon berisikan penuntutan terhadap penahanan Zimmerman.

Petisi itu menjadi yang paling besar dalam sejarah situs change.org. Sejumlah tokoh publik hingga pebasket seperti LeBron James dan klub Miami Heat memakai hoodie serupa milik Trayvon sebagai tanda penghormatan terhadap sang remaja.

Kasus Trayvon pun menjadi pendorong gerakan Black Lives Matter terbentuk. Gerakan yang semula hanya sebatas tagar di media sosial itu terbentuk sebagai bentuk perlawanan terhadap kekerasan dan sikap rasisme yang sistematik terhadap warga kulit hitam di AS.

Black Lives Matter

Demonstrasi gerakan Black Lives Matter semakin signifikan pada 2014 terutama setelah kematian sejumlah warga keturunan Afrika-Amerika yakni Dontre Hamilton, Eric Garner, John Crawford III, Michael Brown, Ezell Ford, Laquan McDonald, Akai Gurley, Tamir Rice, Antonio Martin, dan Jerame Reid.

Sepuluh warga kulit hitam AS itu tewas di tangan kepolisian dan beberapa di antara mereka bahkan masih berusia remaja.

Lebih dari 3.000 orang berkumpul di Mall of America, Bloomington, Minnesota, memprotes perlakuan polisi terhadap sepuluh warga kulit hitam yang tak bersenjata itu.

Tak hanya di Minnesota, protes serupa juga berlangsung di beberapa kota lainnya seperti Milwaukee, Wisconsin.

Pada tahun 2015, gerakan Black Lives Matter pun kembali mencuat lagi-lagi karena beberapa kematian warga Afrika-Amerika di tangan polisi termasuk Charley Leundeu Keunang, Tony Robinson, Meagan Hockaday, Freddie Gray, Sandra Bland, dan masih banyak lagi.

Dilansir CNN, protes Black Lives Matter memuncak pada April tahun itu setelah kematian Freddie Gray di Baltimore. Pria 25 tahun itu tewas akibat menderita cedera leher saat dalam penahanan polisi. 

Ribuan orang di seluruh penjuru AS turun ke jalanan di berbagai kota besar menuntut reformasi dalam tubuh kepolisian. Para pedemo menginginkan masyarakat sipil dilibatkan dalam memantau aktivitas kepolisian.

Black Panther Party

Jauh sebelum gerakan Black Lives Matter terbentuk, gerakan serupa juga pernah muncul sekitar 1966-1982 yang dikenal dengan Black Panther Party (BPP).

BPP merupakan sebuah partai yang awalnya dibentuk demi memonitor tindakan Kepolisian Oakland yang dinilai brutal terhadap warga kulit hitam.

Melansir the Washington Post, BPP merilis protes perdananya dengan menerbitkan surat kabar Black Panther pada 1967 sebagai respons terhadap pembunuhan seorang pria kulit hitam bernama Denzil Dowell oleh seorang petugas polisi di California.

Keberanian para anggota BPP saat itu untuk menentang kekerasan dan diskriminasi terhadap warga kulit hitam di AS membuat organisasi tersebut saat itu dinilai sebagai pembela hak warga keturunan Afrika-Amerika. Hingga masa-masa akhir BPP beroperasi, organisasi itu terhitung memiliki lebih dari 5.000 anggota di seluruh penjuru AS. (cni)

Untuk Mendapatkan Update Berita TERBARU
Follow Kami Juga Di :

Facebook Klik : UPDATE INFO
Instagram Klik : UPDATE INFOO
Telegram Klik : UPDATE INFOO OFFICIAL
Twitter Klik : UPDATE INFOO

Budayakan Membaca Agar Kenali Fakta
Terima Kasih

0 Response to "Jejak Demo Tolak Kekerasan Rasial Warga Kulit Hitam di AS"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel